Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Malam Indah Bersama Adik Sepupuku Yang Sangat Seksi


Kedua barbel kecil masing-masing seberat 5 kilogram terasa telah kian berat saja kuayun-ayunkan bergantian. Keringatku telah sejak tadi berseleweran membasahi seluruh tubuhku yang kuperhatikan lewat cermin sebesar pintu di depanku itu telah tambah mekar dan kekar. Kalau dibandingkan dengan atlet binaraga, aku tak kalah indahnya. Aku hanya tersenyum sambil kemudian menaruh kedua barbelku dan menyeka keringat di dahi. Kuperhatikan jam telah menunjukan pukul 22:39 tepat. Ya, memang pada jam-jam seperti ini aku biasa olahraga berat untuk membentuk otot-otot di tubuhku. Suasana sepi dan udara sejuk sangat aku sukai. Kamar kost-ku di pinggirn utara kota Jogja memang menawarkan hawa dinginnya. Itulah sebabnya aku sangat betah kost di sini sejak resmi jadi mahasiswa hingga hampir ujian akhirku yang memasuki semester delapan ini.

Sudah jadi kebiasaanku, aku selalu berolahraga dengan telanjang bulat, sehingga dapat kuperhatikan tubuhku sendiri lewat cermin itu yang kian hari kian tumbuh kekar dan indah. berkulit sawo matang gelap. Rambut kasar memenuhi hampir di seluruh kedua lengan tangan dan kaki serta dadaku yang membidang ke bawah, lebih-lebih pada daerah kemaluanku. Rambutnya tumbuh subur dengan batang zakarnya yang selalu terhangati olehnya. Kuraba-raba batang kemaluanku yang mulai beranjak tegang ereksi ini. Hmm, ouh, mengasyikan sekali. Air keringatku turut membasahi batang zakar dan buah pelirku. Dengan sambil duduk di kursi plastik aku berfantasi seandainya ini dilakukan oleh seorang wanita. Mengelus-elus zakarku yang pernah kuukur memiliki panjang 20 centimeter dengan garis lingkar yang 18 centimeter! Mataku hanya merem melek saja menikmati sensasi yang indah ini. Perlahan-lahan aku mulai melumuri batang zakarku dengan air liurku sendiri. Kini sambil menggenggam batang zakar, aku terus menerus melakukan mengocok-ngocok secara lembut yang berangsur-angsur ke tempo cepat.

Aku tengah menikmati itu semua dengan sensasiku yang luar biasa ketika tiba-tiba pintu kamar kost-ku diketok pelan-pelan. Sial, aku sejenak terperangah, lebih-lebih saat kudengar suara cewek yang cukup lama sekali tak pernah kudengar.
"Mas, Mas Wid? Ini aku, Melati!"
Melati? Adik sepupuku dari Pekalongan? Ngapain malam-malam begini ini datang ke Jogja? Gila! Buru-buru aku melilitkan kain handuk kecilku sambil memburu ke arah pintu untuk membukakannya. "Melati?" ucapku sambil menggeser posisiku berdiri untuk memberi jalan masuk buat adik sepupuku yang terkenal tomboy ini. Melati terus saja masuk ke dalam sambil melempar tas ranselnya dan lari ke kamar mandi yang memang tersedia di setiap kamar kost ini. Sejenak aku melongok keluar, sepi, hanya gelap di halaman samping yang menawarkan kesunyian. Pintu kembali kututup dan kukunci. Aku hanya menghela nafasku dalam-dalam sambil memperhatikan tas ransel Melati.

Tak berapa lama Melati keluar dengan wajah basah dan kusut. Rambutnya yang lebat sebahu acak-acakan. Aku agak terkejut saat menyadari bahwa kini Melati hanya memakai kaos oblong khas Jogja. Rupanya ia telah melepas celana jeans biru ketatnya di kamar mandi. Kulit pahanya yang kuning langsat dan ketat itu terlihat jelas. "Ada masalah apa lagi, hmm? Dapat nilai jelek lagi di sekolahan lalu dimarahi Bapak Ibumu?" tanyaku sambil mendekat dan mengelus rambutnya, Melati hanya terdiam saja. Anak SMU kelas dua ini memang bandel. Mungkin sifat tomboynya yang membuat dirinya begitu. Tak mudah diatur dan maunya sendiri saja. Jadinya, aku ini yang sering kewalahan jika ia datang mendadak minta perlindunganku. Aku memang punya pengaruh di lingkungan keluarganya.

Melati hanya berdiri termangu di depan cermin olah ragaku. Walau wajahnya merunduk, aku dapat melihat bahwa dia sedang memandangi tubuhku yang setengah telanjang ini.
"Lama ya Mas, Melati nggak ke sini."
"Hampir lima tahun," jawabku lebih mendekat lagi lalu kusadari bahwa lengan dan tangannya luka lecet kecil.
"Berantem lagi, ya? Gila!" seruku kaget menyadari memar-memar di leher, wajah, kaki, dan entah dimana lagi.
"Melati kalah, Mas. Dikeroyok sepuluh cowok jalanan. Sakit semua, ouih. Mas, jangan bilang sama Bapak Ibu ya, kalau Melati kesini. Aduh..!" teriak tertahan Melati mengaduh pada dadanya.
"Apa yang kamu rasakan Ir? Dimana sakitnya, dimana?" tanyaku menahan tubuhnya yang mau roboh.
Tapi dengan kuat Melati dapat berdiri kembali secara gontai sambil memegangi lenganku.
"Seluruh tubuhku rasanya sakit dan pegal semua, Mas, ouh!"
"Biar Mas lihat, ya? Nggak apa-apa khan? Nggak malu, to?" desakku yang terus terang aku sudah mulai tergoda dengan postur tubuh Melati yang bongsor ketat. Melati hanya mengangguk kalem.
"Ah, Mas Wid. Melati malah pengin seperti dulu lagi, kita mandi bareng.. Melati kangen sama pijitan Mas Wid!" ujar Melati tersenyum malu.

Edan! Aku kian merasakan batang kemaluanku mengeras ketat. Dan itu jelas sekali terlihat pada bentuk handuk kecil yang menutupinya, ada semacam benda keras yang hendak menyodok keluar. Dan Melati dapat pula melihatnya! Perlahan kulepas kaos oblong Melati. Sebentar dirinya seperti malu-malu, tapi kemudian membiarkan tanganku kemudian melepas BH ukuran 36B serta CD krem berenda ketatnya. Aku terkejut dan sekaligus terangsang hebat. Di tubuh mulusnya yang indah itu, banyak memar menghiasinya. Aku berjalan memutari tubuh telanjangnya. Dengan gemetaran, jemariku menggerayangi wajahnya, bibirnya, lalu leher dan terus ke bawahnya. Cukup lama aku meraba-raba dan mengelus serta meremas lembut buah dadanya yang ranum ini. "Mas Wid.. enak sekali Mas, teruskan yaa.. ouh, ouh..!" pinta mulut Melati sambil merem-melek. Mulutku kini maju ke dada Melati. Perlahan kuhisap dan kukulum nikmat puting susunya yang coklat kehitaman itu secara bergantian kiri dan kanannya. Sementara kedua jemari tanganku tetap meremas-remas kalem dan meningkat keras. Mulut Melati makin merintih-rintih memintaku untuk berbuat lebih nekat dan berani. Melati menantangku, sedotan pada puting susunya makin kukeraskan sambil kuselingi dengan memilin-milin puting-puting susu tersebut secara gemas.

"Auuh, aduh Mas Wid, lebih keras.. lebih kencang, ouh!" menggelinjang tubuh Melati sambil berpegangan pada kedua pundakku. Puting Melati memang kenyal dan mengasyikan. Kurasakan bahwa kedua puting susu Melati telah mengeras total. Aku merendahkan tubuhku ke bawah, mulutku menyusuri kulit tubuh bugil Melati, menyapu perutnya dan terus ke bawah lagi. Rambut kemaluan Melati rupanya dicukur habis, sehingga yang tampak kini adalah gundukan daging lembut yang terbelah celah sempitnya yang rapat. Karuan lagi saja, mulutku langsung menerkam bibir kemaluan Melati dengan penuh nafsu. Aku terus mendesakkan mulutku ke dalam liang kemaluannya yang sempit sambil menjulurkan lidahku untuk menjilati klitorisnya di dalam sana. Melati benar-benar sangat menggairahkan. Dalam masalah seks, aku memang memliki jadwal rutin dengan pacarku yang dokter gigi itu. Dan kalau dibandingkan, Melati lebih unggul dari Sinta, pacarku. Mulutku tidak hanya melumat-lumat bibir kemaluan Melati, tapi juga menyedot-nyedotnya dengan ganas, menggigit kecil serta menjilat-jilat.

Tanpa kusadari kain handukku terlepas sendiri. Aku sudah merasakan batang kemaluanku yang minta untuk menerjang liang kemaluan lawan. Karuan lagi, aku cepat berdiri dan meminta Melati untuk jongkok di depanku. Gadis itu menurut saja. "Buka mulutmu, Dik. Buka!" pintaku sambil membimbing batang kemaluanku ke dalam mulut Melati. Gadis itu semula menolak keras, tapi aku terus memaksanya bahwa ini tidak berbahaya. Akhirnya Melati menurut saja. Melati mulai menyedot-nyedot keras batang kemaluanku sembari meremas-remas buah zakarku. Ahk, sungguh indah dan menggairahkan. Perbuatan Melati ini rupanya lebih binal dari Sinta. Jemari Melati kadangkala menyelingi dengan mengocok-ngocok batang kemaluanku, lalu menelannya dan melumat-lumat dengan girang.

"Teruskan Dik, teruskan, yeeahh, ouh.. ouh.. auh!" teriakku kegelian. Keringat kembali berceceran deras. Aku turut serta menusuk-nusukan batang kemaluanku ke dalam mulut Melati, sehingga gadis cantik ini jadi tersendak-sendak. Tapi justru aku kian senang. Kini aku tak dapat menahan desakan titik puncak orgasmeku. Dengan cepat aku muntahkan spermaku di dalam mulut Melati yang masih mengulum ujung batang kemlauanku.
"Croot.. creet.. crret..!"
"Ditelan Dik, ayo ditelan habis, dan bersihkan lepotannya!" pintaku yang dituruti saja oleh Melati yang semula hendak memuntahkannya. Aku sedikit dapat bernafas lega. Melati telah menjilati dan membersihkan lepotan air maniku di sekujur ujung zakar.

"Maass, ouh, rasanya aneh..!" ujar Melati sambil kuminta berdiri. Sesaat lamanya kami saling pandang. Kami kemudian hanya saling berpelukan dengan hangat dan mesra. Kurasakan desakan buah dadanya yang kencang itu menggelitik birahiku kembali.
"Ayo Dik, menungging di depan cermin itu!" pintaku sambil mengarahkan tubuh Melati untuk menungging. Melati manut. Dengan cepat aku terus membenamkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Melati lewat belakang dan melakukan gerakan maju mundur dengan kencang sekali. "Aduuh, auuh.. ouh.. ouh.. aah.. ouh, sakit, sakit Mas!" teriak-teriak mulut Melati merem-melek. Tapi aku tak peduli, adik sepupuku itu terus saja kuperkosa dengan hebat. Sambil berpegangan pada kedua pinggulnya, aku menari-narikan batang kemaluanku pada liang kemaluan Melati.
"Sakiit.. ouhh..!"
"Blesep.. slep.. sleep.." suara tusukan persetubuhan itu begitu indah.
Melati terus saja menggelinjang hebat.

Aku segera mencabut batang kemaluanku, membalikkan posisi tubuh Melati yang kini telentang dengan kedua kakinya kuminta untuk melipat sejajar badannya. sementara kedua tangannya memegangi lipatan kedua kakinya. Kini aku bekerja lagi untuk menyetubuhi Melati.
"Ouuh.. aahhk.. ouh.. ouh..!"
Dengan menopang tubuhku berpegangan pada buah dadanya, aku terus kian ganas tanpa ampun lagi menikam-nikam kemaluan Melati dengan batang kemaluanku.
"Crroot.. cret.. creet..!"
Menyemprot air mani zakarku di dalam liang kemaluan Melati. "Maas.. ouuh.. aduh.. aahk!" teriak Melati yang langsung agak lunglai lemas, sementara aku berbaring menindih tubuh bugilnya dengan batang kemaluanku yang masih tetap menancap di dalam kemaluanya.

"Dik Melati, bagaimana kalau adik pindah sekolah di Jogja saja. Kita kontrak satu rumah.. hmm?" tanyaku sambil menciumi mulut tebal sensual Melati yang juga membalasku. "Melati sudi-sudi saja, Mas. Ouh.." Entah, karena kelelehan kami, akhirnya tidur adalah pilihannya. Aku benar-benar terlelap.

TAMAT
0

Nikmatnya Tante Stella



SUMKIRNO - Cerita ini adalah kisah nyata, berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Ferry.

Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Melati untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.

Keluarga Melati adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Mawar, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Mawar adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Melati murid saya bernama Ferr, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Mawar selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.

Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Mawar malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.

Setiap saya selesai mengajar, Tante Mawar selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Ferr, hubungan saya dengan Tante Mawar semakin akrab.

Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Ferr, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Ferr, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Mawar datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Ferr sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Mawar tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.

Ketika Tante Mawar memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Mawar telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Mawar masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam "BL" seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.

Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Ferr. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Mawar mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.
"Ferr, kamu lugu sekali yah..?" tanya Tante Mawar.
"Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?" jawab saya.
"Yah.. lebih dewasa Dong..!" tegasnya.
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Mawar sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.

"Ferr.. mau kan tolongin Tante..?" tanya si Tante dengan manja.
"Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?" jawab saya.
"Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!" jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Mawar yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk "bercinta" dengan Tante Mawar ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
"Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?" tanya saya sambil bercanda.
"Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?" jawabnya.

Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Mawar juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.

Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Mawar menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi's saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.


"Wah.. Ferr, gede juga nih punya kamu.." kata si Tante sambil bercanda.
"Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!" jawab saya.
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Mawar yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.

Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Mawar terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.
"Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Ferr..!" desahnya.
"Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?" kata saya.

Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.
"Ogh.. Ferr, pintar sekali yah kamu merangsang Tante.." dengan suara yang mendesah.
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.

Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Mawar sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
"Ferr.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!" pinta si Tante.
"Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?" tanya saya.
"Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!" sambil berusaha meyakinkan saya.

Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.
"Ahh.. dorong terus Dong Ferr..!" pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Mawar mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.

Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
"Oh.. oh.. nikmat sekali Ferry..!" teriak si Tante.
"Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!" kata saya.
"Sabar yah Ferr.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!" jawab si Tante.

Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.
"Arghh..!" teriak Tante Mawar.
Tante Mawar kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.

Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Mawar dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Mawar dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.

"Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?" kataya sambil tertawa kecil.
"Agh.. Tante bisa aja deh..!" jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Mawar, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.

"Um.. dorong lebih keras lagi dong Ferr..!" desahnya.
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
"Ferr.. mandi yuk..!" pintanya.
"Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?" jawab saya.

Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Mawar untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
"Hm.. nikmat sekali jilatanmu Ferr.. agghh..!" desahnya.
"Ferr.. kamu sering-sering ke sini Ferr..!" katanya dengan nafas memburu.
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Mawar agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya "KO" kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Mawar kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.

Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Melati teman sekampus saya, apalagi Ferr murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.

Selepas pengalaman itu, saya menjadi lebih berani pada wanita, dan menikmati persetubuhan dengan beberapa wanita setengah baya yang kesepian dan butuh pertolongan tanpa dibayar. " www.sumkirno.com "

TAMAT
0

Terapi Nikmat


SUMKIRNO  - Aku benar-benar jadi ketagihan berhubungan sex dengan wanita-wanita yang umurnya jauh lebih tua dariku. Hubungan cintaku dengan Ibu mertuaku masih terus berlanjut sampai saat ini. Jika aku sudah sangat rindu akan tubuh Ibu mertuaku, aku menelpon Ibu mertuaku, kami janjian untuk bertemu di salah satu hotel, yang lokasinya dekat dengan bandara.

Pagi pagi sekali aku berangkat, setelah kami berjumpa, kami tumpahkan semua rasa rindu kami, sehari penuh kami tidak keluar kamar mengejar sejuta kenikmatan.

Aku dan Ibu mertuaku benar benar memanfaatkan waktuku yang singkat, karena sore harinya aku harus segera kembali ke Jakarta. Saat menunggu dibandara, jika birahi ku datang, aku dan Ibu mertuaku masuk ke toilet bandara yang cukup sepi. Langsung kusingkap roknya, kuturunkan CDnya, kuturunkan celana dan CD ku sebatas lutut, dari belakang langsung kutancapkan kontolku kelubang memek Ibu mertuaku, kogoyang maju mundur pantatku dengan sangat cepat, agar secepat mungkin kami raih kenikmatan. Mungkin aku sudah gila, aku jatuh cinta sama Ibu mertuaku sendiri.

Banyak diantara pembaca sekalian yang bertanya tanya tentang hubungan sexku dengan Indah istriku? Dalam hubungan sex, Indah, tidaklah sehebat ibunya, dalam bercinta istriku tidak suka dengan gaya yang aneh aneh. Bahkan Untuk melakukan oral sex saja, Indah enggan melakukannya, jijik, katanya.

Dalam berhubungan badan, aku dan Indah lebih banyak mengunakan gaya konvensional dalam bercinta. Apalagi Indah istriku termasuk wanita karier yang cukup berhasil, kadang kadang disaat aku ingin bersetubuh istriku sering menolaknya, capek sekali, katanya.

Tapi bukan itu yang menjadi alasan aku harus selingkuh dengan ibunya atau dengan wanita setengah baya lainnya. Aku bangga akan istriku.

Hanya saja, dengan Indah semua fantasi sexku tidak pernah kesampaian, terlalu monoton, Dengan Ibu mertuaku atau dengan wanita setengah baya lainnya yang pernah kusetubuhi, aku bebas berexpresi, dan fantasi sexualku juga bisa terpenuhi.
Dengan mereka, aku benar benar merasakan kepuasan sexual yang luar biasa.

Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku, tentang hubunganku dengan Ibu Mala, setelah persetubuhan kami yang pertama.

*****

Saat keesokan harinya, ketika aku sudah tiba dikantor, aku hanya senyum senyum sendiri membayangkan Ibu Mala atasanku, orang yang begitu ditakuti dikantorku ini, akhirnya menyerah pasrah dalam pelukanku, memohon mohon agar ladangnya segera dicangkul dan sirami oleh air kehidupan yang begitu nikmat. Aku hanya tersenyum sendiri kalau mengingat apa yang terjadi semalam antara aku dengan Ibu Mala.

Aku benar benar menunggu kedatangan orang yang paling berpengaruh dikantorku, dan ingin sekali melihat reaksi dan expresi Ibu Mala kepadaku. Setelah lewat setengah jam, Ibu Mala belum Muncul juga. Dari Yena, sekretaris Ibu Mala aku tahu, bahwa hari ini Ibu Mala tidak masuk kantor karena kurang enak badan. Banyak teman teman yang tersenyum lepas, karena bisa bebas bekerja tanpa perlu ada yang ditakuti.

Cuma aku yang tidak senang atas peristiwa ini, karena aku ingin sekali melihat expresi wajah Ibu Mala. Ya sudahlah Akupun sibuk dan larut dengan pekerjaanku. Tanpa terasa sudah jam sepuluh pagi, tiba tiba aku dikejutkan oleh suara dering Hpku, tanda bahwa ada pesan yang masuk. Aku lihat ternyata Ibu Mala yang mengirim pesan, segera kubaca isi pesan tersebut.

"Pento.., kamu lumayan juga diatas ranjang, jadi wajar, kalau Ibu mertuamu sampai hamil. Hari ini saya nggak masuk kerja, saya tunggu kamu dirumah saya, jam satu siang. Minta izin sama Siska bilang saja kamu sakit.

Mala."..

Uh dasar.. Bos, Sudah jelas jelas Ibu Mala kubuat KO di atas ranjang, masih bilang aku hanya lumayan. Tapi aku bersyukur juga, berarti hari ini aku bisa mengentot Ibu Mala lagi. Langsung terbayang semua kenikmatan yang akan kuperoleh dari tubuh gendut Ibu Mala.

Dengan alasan kurang enak badan, akupun izin untuk istirahat pulang, kutelpon taksi, saat taksi sudah datang, akupun langsung cabut dari kantorku menuju rumah Ibu Mala.

Setelah mendapat SMS dari Ibu Mala, aku begitu penuh semangat, hari ini aku ingin membuat Ibu Mala mengemis dan mohon ampun padaku. Cuma aku sadar, kemampuan sexku tidaklah terlalu hebat. Nggak mungkinlah, aku bisa kuat ngentot berjam jam. Untuk menambah stamina dan daya tahan sex ku, aku mampir ke salah satu toko yang menjual obat kuat, dari uang yang diberikan Ibu Mala kepadaku, aku beli beberapa butir obat kuat yang cukup ampuh. Didalam taksi langsung aku minum sebutir. Haa.. ha.. rasakan nanti, batinku.

Jam satu kurang, aku sudah tiba dirumah Ibu Mala, Kupencet bell dengan perasaan berdebar. Saat pintu gerbang terbuka kulihat Agus, satpam penjaga rumah Ibu Mala membukakan pintu.
"Eh.., Bapak Pento Silahkan masuk Pak, Ibu sudah menunggu Bapak di dalam".
"Terima kasih Pak", jawabku.

Akupun masuk kedalam, jauh juga jarak dari pintu gerbang sampai kepintu rumah Ibu Mala. Kulihat Ibu Mala sudah menunggu diteras rumahnya dan melambaikan tangannya.
"Hai, kamu datang juga.., aku pikir kamu nggak datang", sapa Ibu Mala.
"Aku pasti datang Bu, kalau tidak datang, bisa-bisa rahasiaku terbongkar", candaku.
"Ayo masuk, kamu sudah makan siang belum? Kita makan sama sama, hari ini Ibu sudah pesankan makanan untuk kita berdua. Spesial buat kamu dan Ibu".
"Mmm.. ramah sekali Ibu Mala hari ini", batinku.


Aku dan Ibu Mala masuk kedalam ruangan yang begitu besar, sepertinya kamar tidur Ibu Mala. Di dekat jendela yang menghadap kearah kolam renang, aku melihat sebuah meja kecil yang sudah ditata rapi, dengan nyala lilin dan sebotol wine, romantis sekali.

Aku dan Ibu Mala duduk berhadapan, Ibu Mala begiti lemah lembut, kamipun makan siang bersama, dalam suasana kamar yang begitu romantis.
"Boleh saya merokok disini Bu?"
"Silakan Pento, dulu almarhum suami Ibu juga seorang perokok", jawab Ibu Mala.
"Kamu mau Minum wine?", tanya Ibu Mala.
Kemudian Ibu Mala memberikan segelas wine untukku, kami terus berbicara sambil menghabiskan minuman kami.

Kupeluk tubuh Ibu Mala dari belakang saat Ibu Mala berdiri dijendela memandang keluar, Kucium dengan lembut wajahnya, bibirnya, burungku yang menempel tepat di belahan pantat Ibu Mala pun sudah tegak berdiri, sampai sakit sekali rasanya, mungkin pengaruh obat kuat yang sudah aku minum.

"Pento, Sebenarnya Ibu mau mengajak kamu makan malam disuatu tempat yang romantis sekali, Cuma Ibu tahu, kamu tidak punya banyak waktu kalau malam hari jadi Ibu ajak kamu makan siang di sini, dikamar Ibu, dan sengaja suasananya Ibu buat seperti ini, agar tetap terkesan romantis"
"Terima kasih Bu, Ibu baik sekali". Jawabku
"Kamu tahu Pen? Ini kamar tidur Ibu dan almarhum Bapak, kamu lelaki kedua setelah almahum Bapak, yang boleh masuk di kamar ini. Ibu sudah lama suka sama kamu, Cuma Ibu nggak yakin, melihat gayamu yang cool, apa iya kamu mau sama Ibu?, Untung Ibu mendengar pembicaraan kamu dan Ibu mertuamu, yah terpaksa Ibu harus mainkan siasat, untuk mendapatkan kamu".
"Pento kamu maukan, hari ini, kamu bercinta dengan Ibu tanpa merasa terpaksa".

Aku tersenyum dan kupandangi wajah Ibu Mala, aku merasa bangga sekali, kupeluk lebih erat lagi tubuh Ibu Mala. Tubuhku sudah panas rasanya, Ibu Mala berbalik, kami sudah saling berhadapan. Kupandangi wajah Ibu Mala, cantik sekali, kukecup lembut bibir Ibu Mala, kami berdua sudah saling melumat. Lama sekali kami berciuman, ditambah lagi suasana yang begitu romantis menambah tinggi gairah kami berdua.

Kulepas pakaian yang di kenakan Ibu Mala, kuciumi lehernya, Ibu Mala mendesah menikmati cumbuan yang aku berikan, kubuka Bh nya, kuremas dengan lembut tetek Ibu Mala. Ciumanku terus turun kearah buah dadanya, kujilati dan kuhisap tetek Ibu Mala, Ibu Milapun semakin mengeliat dan semakin keras desahannya.

"Uh.. Pento.. Terus hisap sayang.. Uhh.. Enak.. Pen."..
setelah puas bermain main di buah dada Ibu Mala ciumankupun turun keperutnya. Kujilati pusarnya sambil tanganku berusaha melepas celana dalam Ibu Mala, yang merupakan penutup terakhir di tubuhnya. Masih dalam posisi berdiri kujilati memek Ibu Mala, kuhisap semua lendir yang keluar, dendam yang tadinya begitu mengebu gebu hilang sudah, aku begitu lembut memperlakukan Ibu Mala.

"Ah.. pento.. nikmat sekali sayang, buka pakaianmu sayang".
Jari jemari tangan Ibu Mala dengan lincah melepas kancing pakaianku. Satu persatu pakaian yang kukenakan terlepas sudah. Akhirnya kami berdua sudah telanjang bulat. Dihisapnya puting dadaku, sambil tangan Ibu Mala meremas remas kontolku yang sudah sangat tegak berdiri.

"Pento aku ingin kita melakukannya di tempat tidur, puaskan aku sayang".
Kami berdua berjalan menuju kepembaringan, tangan Ibu Mala terus memegangi kontolku. Tubuhku direbahkan diatas pembaringan, kemudian kontolku di kulum dengan lembut, nikmat sekali kuluman Ibu Mala.

"Oh.. Pento Ibu sudah tidak tahan lagi.. Ibu masukin ya sayang."..
Kemudian Ibu Mala menaiki tubuhku, digemgamnya kontolku dan diarahkan ke lubang memeknya, perlahan lahan sekali Ibu Mala menurunkan pantatnya, mili demi mili batang kontolku masuk meluncur ke lubang memek Ibu Mala yang sangat basah sekali.

"Ahh."., rintih kami berdua, saat kontolku masuk semua terbenam didalam lubang memek Ibu Mala.
Aku lihat Ibu Mala memejamkan mata dan mengigit bibirnya menikmati sensasi yang begitu indah. Ibu Mala mengangkat pantatnya dengan perlahan sekali, menikmati gesekan batang kontolku dengan dinding memeknya, kemudian diturunkan kembali dengan sangat perlahan. semakin lama goyangan naik turun pantat Ibu Mala semakin cepat.
"Akkhh.. Pento.. ampun.. enak sekali sayang.. kontolmu enak sekali sayang".
Ibu Mala terus menjerit mendesah berteriak menikmati sensasi nikmat dari pertemuan batang kontolku dengan lubang memeknya. Kontolku yang begitu tegak perkasa terus menerus menerima gesekan demi gesekan dari lubang memek Ibu Mala.
"Iya.. Bu, aku juga nikmat goyang terus Bu".
Kuremas tetek Ibu Mala, aku angkat badanku kuhisap teteknya, goyangan pinggul Ibu Mala makin menggila dan terkendali.

Jujur saja, kalau bukan karena pengaruh obat kuat yang aku minum, Mungkin aku sudah ejakulasi, dan sudah tidak sanggup lagi bertahan mengimbangi goyangan pantat Ibu Mala yang begitu liar.
"Oh.. Pento.. Ibu.. sudah nggak sanggup lagi.., Ibu mau keluuarr".
"Ayo.. Bu.. keluarin semuanya Bu.. Nikmatin.. Bu."..
Kuhisap dengan kuat tetek Ibu Mala, dan Ibu Milapun makin mempercepat goyangan pinggulnya menanti saat saat datangnya orgasme.
"Pentoo.. Arrgghh."., jerit Ibu Mala, memek Ibu Mala dengan kuat mencengkram batang kontolku.
Sungguh menyesal aku meminum obat kuat, padahal saat seperti inilah, saat yang paling nikmat untuk secara bersamaan melepaskan orgame yang sudah tertahan. Namun kalau aku tidak meminumnya, aku juga tidak tahu apakah aku sanggup bertahan dari serangan dan goyangan pantat Ibu Mala.

Dipeluknya aku dengan erat sekali.
"Hu.. hu.. hu."., Ibu Mala menangis.
Aku peluk tubuh nya dengan erat. Kurebahkan badanku, Ibu Mala ikut rebah sambil terus memelukku. Kubiarkan Ibu Mala menikmati orgasmenya.

Kukecup kening Ibu Mala, ku belai rambutnya dengan penuh kasih sayang, sementara kontolku masih terus terbenam di dalam lubang memek Ibu Mala.
"Enak sayang", Tanyaku
"Enak sekali Pen, dasyat sekali rasanya" jawab Ibu Mala lirih.
"Kamu sudah keluar Pento?".
"Belum Bu, tidak apa apa, yang penting Ibu puas", Jawabku.
"Ibu lemas sekali Pento, kasihan kamu belum keluar".
"Tidak apa-apa Bu, Ibu istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi, toh waktu kita masih panjang", jawabku.

Ibu Mala mengangkat tubuhnya dan langung menghempaskannya kembali disampingku. Kontolku masih tegak berdiri, sama sekali belum terlihat tanda tanda hendak memuntahkan isinya. Ibu Mala merebahkan kepalanya didadaku, kupeluk tubuh Ibu Mala, sambil kubelai belai ramutnya. Akhirnya Ibu Milapun tertidur.

Kupandangi wajahnya, ada senyum kepuasan disana. Seandainya saja dendamku belum hilang mungkin aku tidak peduli apakah Ibu Mala lelah atau tidak, pasti sudah kutancapkan kembali kontolku yang masih tegak berdiri kelubang memek Ibu Mala sampai Ia minta ampun dan memohon mohon padaku.

Hari itu sampai jam sepuluh malam Aku dan Ibu Mala benar benar menghabiskan waktu kami hanya untuk bersetubuh meraih kenikmatan demi kenikmatan. Kami berdua melakukannya dengan penuh perasaan.

Ternyata di balik ketegaran yang diperlihatkanya dikantor, Ibu Mala tetaplah seorang wanita yang butuh perhatian dan kasih sayang. " www.sumkirno.com " Blue Film - Bokep Indo - Bokep Barat - Cerita Seks - Film Semi - Movie

E N D
0

Di Paksa Melayani 3 Orang Cowok Mesum: Part 1


SUMKIRNO - Nama saya Anggelia, CeciAnggelia Lengkapnya, mungkin para pembaca sudah banyak yang famiAnggeliar dengan saya melalui kisah "Kemi Yang Perawan" dan "Kemi Dan Pegawai Baru" cerita ini merupakan episode terakhir dari kisah perjalanan hidupku dan Kemi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurku meskipun dering jam weker terus mengganggu telingaku.

"Uhh..!!" akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidur, mengumpulkan tenagaku dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari Sabtu, aku belum mempunyai rencana untuk menikmati Weekend ini.
"Enaknya ngapain yach hari ini" pikirku mencari ide sambil menggosok gigi, usai gosok gigi dan mencuci muka aku berjalan ke meja riasku, masih belum menemukan ide.

Kutatap wajahku dari cermin riasku.

"Anggelia.. Anggelia.. Kenapa kamu belum punya kekasih?" gumamku sambil termenung di depan cermin, kubuka kancing gaun tidurku satu persatu sampai terbuka seluruhnya, kupandangi buah dadaku sendiri yang tersembul dengan puting yang coklat kemerahan, aku memang punya kebiasaan tidak pernah memakai bra saat tidur. Kuremas dua gunung kembarku itu dengan ke dua tanganku, sambil mataku tetap memandangi cermin.

" Hmm.. Lumayan besar dan sekal" gumamku.

Buah dadaku memang berukuran lumayan besar hingga aku harus selalu mengenakan bra ukuran 36 B, aku berdiri sambil terus mengagumi diriku sendiri dari cermin riasku, aku cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 167 cm dan berat badan 45 kg, akupun memiliki kulit yang putih mulus, tubuh yang seksi dan wajah yang cantik, tapi kenapa sampai saat ini aku masih takut untuk punya pasangan hidup, harus ku akui, aku masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aku alami beberapa waktu yang silam.

"Huh.. Masa bodo amat" pikirku.

Cukup lama aku mematut diriku di depan cermin, kuraba perutku yang mulus dan ramping, lalu kuturunkan tanganku ke bagian selangkangan, Kuelus vaginaku yang ditumbuhi bulu bulu halus..

"Ohh.." Hasrat birahiku melonjak menjalari seluruh tubuhku, kumain mainkan dengan jariku hingga cairan kewanitaanku membasahi bibir vaginaku.

Aku sudah tidak bisa mengontrol tanganku lagi saat itu, dengan posisi masih tetap berdiri, kunaikkan sebelah kakiku ke atas meja rias, lalu aku mulai memasukan salah satu jariku ke dalam lubang kemaluanku sendiri dengan perlahan.. Sangat pelan.. Sambil tetap memandangi tubuh telanjangku dari cermin di depanku, aku mulai memaju mundurkan jariku, ku kocok di dalam lubang vaginaku dengan lembut, makin lama makin cepat dan lebih cepat lagi.. Cairan kewanitaanku makin membanjiri seluruh dinding Anggeliang vaginaku.

"Sshh.. Oughh.. Nikmat sekali.." tubuhku menggeletar hebat.
"Sshh.. Ohh.." aku mendesah panjang, mataku terpejam, merasakan getaran kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, 10 menit aku melakukan masturbasi sebelum akhirnya tubuhku menegang.
"Ahh.." aku melenguh pelan saat telah mencapai orgasme, aku puas, gumamku menatap cermin.

Kubuka laci meja riasku, mencari tissue untuk menyeka keringat yang membasahi wajahku, tiba tiba selembar foto terjatuh, kuambil foto itu, aku tertegun sesaat sambil memandangi foto itu, foto saat aku dan Nama saya Lia, Cecilia Lengkapnya, mungkin para pembaca sudah banyak yang familiar dengan saya melalui kisah "Kemi Yang Perawan" dan "Kemi Dan Pegawai Baru" cerita ini merupakan episode terakhir dari kisah perjalanan hidupku dan Kemi.

*****

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurku meskipun dering jam weker terus mengganggu telingaku.

"Uhh..!!" akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidur, mengumpulkan tenagaku dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari Sabtu, aku belum mempunyai rencana untuk menikmati Weekend ini.
"Enaknya ngapain yach hari ini" pikirku mencari ide sambil menggosok gigi, usai gosok gigi dan mencuci muka aku berjalan ke meja riasku, masih belum menemukan ide.

Kutatap wajahku dari cermin riasku.

"Lia.. Lia.. Kenapa kamu belum punya kekasih?" gumamku sambil termenung di depan cermin, kubuka kancing gaun tidurku satu persatu sampai terbuka seluruhnya, kupandangi buah dadaku sendiri yang tersembul dengan puting yang coklat kemerahan, aku memang punya kebiasaan tidak pernah memakai bra saat tidur. Kuremas dua gunung kembarku itu dengan ke dua tanganku, sambil mataku tetap memandangi cermin.

" Hmm.. Lumayan besar dan sekal" gumamku.

Buah dadaku memang berukuran lumayan besar hingga aku harus selalu mengenakan bra ukuran 36 B, aku berdiri sambil terus mengagumi diriku sendiri dari cermin riasku, aku cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 167 cm dan berat badan 45 kg, akupun memiliki kulit yang putih mulus, tubuh yang seksi dan wajah yang cantik, tapi kenapa sampai saat ini aku masih takut untuk punya pasangan hidup, harus ku akui, aku masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aku alami beberapa waktu yang silam.

"Huh.. Masa bodo amat" pikirku.

Cukup lama aku mematut diriku di depan cermin, kuraba perutku yang mulus dan ramping, lalu kuturunkan tanganku ke bagian selangkangan, Kuelus vaginaku yang ditumbuhi bulu bulu halus..

"Ohh.." Hasrat birahiku melonjak menjalari seluruh tubuhku, kumain mainkan dengan jariku hingga cairan kewanitaanku membasahi bibir vaginaku.

Aku sudah tidak bisa mengontrol tanganku lagi saat itu, dengan posisi masih tetap berdiri, kunaikkan sebelah kakiku ke atas meja rias, lalu aku mulai memasukan salah satu jariku ke dalam lubang kemaluanku sendiri dengan perlahan.. Sangat pelan.. Sambil tetap memandangi tubuh telanjangku dari cermin di depanku, aku mulai memaju mundurkan jariku, ku kocok di dalam lubang vaginaku dengan lembut, makin lama makin cepat dan lebih cepat lagi.. Cairan kewanitaanku makin membanjiri seluruh dinding liang vaginaku.

"Sshh.. Oughh.. Nikmat sekali.." tubuhku menggeletar hebat.
"Sshh.. Ohh.." aku mendesah panjang, mataku terpejam, merasakan getaran kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, 10 menit aku melakukan masturbasi sebelum akhirnya tubuhku menegang.
"Ahh.." aku melenguh pelan saat telah mencapai orgasme, aku puas, gumamku menatap cermin.

Kubuka laci meja riasku, mencari tissue untuk menyeka keringat yang membasahi wajahku, tiba tiba selembar foto terjatuh, kuambil foto itu, aku tertegun sesaat sambil memandangi foto itu, foto saat aku dan Kemi sedang merayakan ulang tahunnya di perusahaan tempat kami bekerja dulu.

"Kemi.. Bagaimana hidupmu sekarang..?" tanyaku dalam hati, aku jadi teringat kejadian 8 bulan yang lalu, saat kami di perkosa dan di gagahi oleh Alex dan Paul, setelah kejadian itu Kemi langsung mengundurkan diri dari perusahaan, sepertinya dia mengalami trauma berat, dia tidak mau di hubungi oleh siapapun, termasuk olehku, berkali kali aku mencoba menelepon dan mendatangi rumahnya, tapi dia selalu mengelak dan berusaha untuk tidak menemuiku, kami kehilangan komunikasi sampai dengan saat ini.

Tiba tiba aku merasa sangat kangen kepada sahabatku itu, aku meraih handphoneku dan mencoba menghubunginya, berharap Kemi tidak mengganti nomor HP-nya.

"Hallo..!!" terdengar suara riang dan renyah dari ujung sana.
"Hai Kemi apa kabar?" seruku gembira, karena dia belum mengganti nomor HPnya, satu jam kami mengobrol dan saling melepas kangen, akhirnya kami sepakat untuk bertemu sore hari ini di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan.

Hampir jam 6 sore dan kami sudah ngobrol cukup lama saat Kemi memohon aku untuk ikut dengannya menghadiri acara pesta seorang rekanan kerjanya.

"Kak Lia.. Ikut yaa.. Kemi mohon please.." pinta Kemi dengan gaya kekanakannya, akhirnya aku mengangguk mengiyakan.
"Ya sudahlah.. Aku juga tidak punya acara hari ini" jawabku yang langsung di sambut dengan sorak riang Kemi.

Acara itu sendiri diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat, Kemi saat itu mengenakan gaun pesta panjang warna hitam dengan motif ukiran cina, Kemi terlihat makin cantik dengan gaun itu, apalagi gaun itu lumayan ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi, sementara akupun mengenakan gaun biru panjang tanpa lengan dengan selendang biru muda transparan yang aku lingkarkan di pundakku.

"Haii.. Gimana, sudah beres semua?" tanya Kemi ke beberapa orang laki-laki yang ada di depan lobi hotel.
"Beres Bu.. Semuanya lancar" jawab seorang dari mereka.

Terus terang aku tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, tapi pasti berkaitan dengan acara pesta, kan Kemi event organizernya.. pikirku, sebelumnya Kemi memang bercerita bahwa saat ini kegiatannya adalah menjadi event organizer untuk acara para konglomerat.

Kami sudah berada di dalam hall hotel tersebut, dan kami ikut hanyut dalam suasana pesta yang berkesan aristokrat, ada sekitar kurang lebih 60 orang laki laki dan perempuan yang berada di ruangan besar ini, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, makan, minum, ngobrol dan lain lain sambil diiringi alunan musik yang lembut, maklum, rata-rata mereka sudah berusia kurang lebih 40 tahunan.

Kusapukan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu, sambil meminum segelas wine, Kemi memang pintar mengemas acara pesta, semuanya tampak sangat mewah dan terorganisir pikirku. Lalu Kemi menyempatkan diri mengenalkanku ke beberapa orang yang kebetulan lewat di depan kami.

"Selamat malam nona Kemi.." tegur seorang laki-laki paruh baya.
"Eh Pak Umar.. Maaf saya datang agak telat.. Kenalkan ini teman kepercayaan saya." jawab Kemi sambil tersenyum ramah kepada laki laki itu yang ternyata adalah si empunya acara pesta tersebut.
"Lia.." ujarku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
"Kamu cantik sekali Lia.." jawab Pak Umar memujiku sambil tersenyum ramah, aku langsung mengucapkan terima kasih atas pujiannya tersebut.

Saat itu seorang laki-laki datang ke arah kami.

"Hallo, selamat malam semua, acara utamanya sudah akan di mulai, silahkan ambil tempat masing masing.." sapa orang itu sambil tersenyum.
"Ini Pak Den.. Dia penanggung jawab acara ini", ujar Pak Umar sambil mempersilakan kami mengikutinya.

Kami duduk di salah satu meja dan menyaksikan dan mendengarkan lagu lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi yang cukup terkenal. Aku masih duduk sambil memegang gelas wine, kepalaku sudah terasa agak berat dan pusing akibat terlalu banyak menenggak minuman tersebut, tak lama kemudian aku pun permisi untuk ke toilet.

"Ke.. Aku ke toilet dulu yach.." ujarku sambil berdiri.
"Kemi temenin deh.." jawab Kemi menawarkan diri.

Kemi sibuk merapikan gaunnya, sementara aku masih memperhatikan wajahku di depan cermin toilet, kepalaku terasa makin berat akibat pengaruh wine tersebut.

"Aduh.. Kayaknya aku kebanyakan minum wine nih Ke..", ujarku setengah menyesal kepada Kemi.

Kami sudah akan ke luar dari toilet saat tiba tiba muncul dua orang laki-laki dan langsung masuk ke dalam ruangan toilet, kebetulan saat itu memang hanya kami berdua yang berada di toilet tersebut.

"Eh.. Bapak-Bapak salah masuk.." ujarku bingung, karena yang masuk itu Pak Den dan Pak Umar, sementara Kemi hanya diam saja sambil tersenyum ke arah mereka.
"Tenang Lia.. Kita cuma mau mencicipi tubuh kamu yang seksi itu kok" ujar Pak Den sambil mendekatiku dan berusaha meraih tubuhku, sementara Pak Umar mengunci pintu toilet dari dalam, seketika itu juga aku tersurut mundur berusaha mengelak dari terkaman Pak Den. Hingga akhirnya tubuhku tertahan oleh washtafel yang berada di belakangku.

"Apa apaan ini.. Kemi.. Hentikan mereka..!!" jeritku sambil berusaha mendorong tubuh Pak Den yang saat itu sudah mendekap dan menggumuli tubuhku, sementara tangannya sibuk berusaha menyingkapkan belahan gaunku, saat itu aku memang mengenakan gaun panjang yang belahannya sampai ke pangkal pahaku. Tak lama setelah itu, Pak Umar dan Kemi mendekatiku, mereka membalikan tubuhku dengan paksa hingga posisiku tengkurap di atas washtafel.

"Hentikan.. Kemi.. Mau apa kalian..!!" jeritku sambil berusaha meronta dari himpitan tubuh Pak Den yang menindihku dari atas, sementara Pak Umar memegangi kedua tanganku dengan erat sambil berusaha menciumi bibirku.
"Mmh.. Jangann.. Mmhh.. Hentikan.. Kemi..!!" jeritku di sela sela mulut Pak Umar yang sedang mengulum bibirku, saat kurasakan jari Kemi mulai membuka resleting gaunku, lidah Pak Umar masih bermain-main di dalam mulutku saat Kemi yang di bantu Pak Den berusaha melepaskan gaunku, mereka menariknya dengan paksa melewati kedua tanganku, sehingga gaun bagian atasku merosot hingga sebatas perut."www.sumkirno.com" Blue Film - Bokep Barat - Bokep Indo - Movie - Film Semi - Cerita Seks

BERSAMBUNG:
0

Di Paksa Melayani 3 Orang Cowok Mesum: Part 2


SUMKIRNO - Bajingan kalian.. Brengsek..!!" teriakku sambil terus berontak dari himpitan ke tiga orang itu, tapi sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan jeritanku, Kemi malah sudah melepaskan braku yang tanpa tali, sehingga kini buah dadaku terbuka dan menggantung tanpa penutup apapun, aku melenguh pelan, menahan sakit saat Pak Den mulai meremas remas buah dadaku dengan kasar, mulutnya mulai mengulum bibirku kembali sambil sesekali menggigit bibirku yang mungil, sementara Kemi menjambak rambutku dan menariknya ke atas sehingga kepalaku menjadi terdongak dan tidak dapat mengelak dari mulut Pak Den yang sedang mengulum bibirku dengan beringas.

"Jangann.. Jangann.. Lakukan itu.. Lepaskan saya.. Biadab kamu Kemi.." jeritku panik saat Pak Umar mulai melolosi celana dalamku, aku berusaha menendangkan kakiku saat kurasakan celana dalamku ditarik paksa melewati lututku, betisku dan akhirnya lepas dari ke dua kakiku, kemudian Pak Umar mulai memposisikan tubuhnya tepat di belakang tubuhku, aku tidak dapat melihatnya karena posisi tubuhku masih menelungkup sementara Pak Den memegangiku dengan erat, tapi aku bisa mendengar Pak Umar menurunkan resleting celananya, dan mulai memain-mainkan ujung kemaluannya di bibir vaginaku.

"Jangan.. Perkosa saya.. Saya mohon.." keluhku lemah sambil memejamkan mataku, aku mulai menangis saat itu, sementara Pak Den masih saja menciumi seluruh wajah dan leherku sambil satu tangannya meremas remas buah dadaku, dia sepertinya sama sekali tidak merasa iba melihatku menangis. Aku mendengar Pak Umar mulai mendesah sambil sesekali melenguh panjang, tapi aku tidak merasakan sesuatu menyentuh bagian selangkanganku, merasa penasaran, kupaksakan kepalaku menoleh ke arah samping.

"Astaga.. Kemi kamu sudah gila..!!" seruku saat kulihat Kemi sedang mengoral batang penis Pak Umar sambil sesekali mengocoknya dengan tangannya yang mungil itu, Kemi hanya menoleh dan tersenyum ke arahku, sepertinya dia sangat menikmati permainan itu, rambutnya yang panjang sampai tersibak saat Kemi menaikturunkan kepalanya dengan cepat, mengocok kemaluan Pak Umar di dalam mulutnya, aku makin terperangah saat kulihat Kemi berjongkok membelakangi tubuh Pak Umar yang duduk di atas lantai, lalu Kemi menyibakkan belahan gaun hitamnya dan menyingkapkan celana dalamnya, kemudian tangannya memegang batang penis Pak Umar dan membimbingnya masuk ke dalam liang vaginannya, sementara Pak Umar memegang pinggang Kemi yang saat itu sedang menurunkan tubuhnya dengan perlahan di atas pangkuan Pak Umar.

"Ahh.. Sshh.." Kemi mendesah panjang saat batang penis Pak Umar amblas seluruhnya ke dalam liang kemaluannya, Kemi sempat menaik turunkan tubuhnya beberapa kali, lalu tiba tiba dia berdiri dan menghampiriku.
"Kak Lia nggak perlu takut.. Enak kok.." ujar Kemi sambil tertawa kecil dan membelai rambutku, ingin rasanya kutampar wajah Kemi saat itu juga, tapi tanganku masih di pegangi dengan erat oleh Pak Den.

"Jangan.. Jangan.. Dimasukin.. Sakitt..!! Hentikan..!!" jeritku saat kurasakan liang vaginaku mulai dijejali oleh batang kemaluan Pak Umar, rupanya saat itu Pak Umar sudah berada di belakangku, dia menyingkapkan gaunku dan mulai berusaha memasukkan kemaluannya ke dalam lubang vaginaku.

"Sakitt.. Lepaskan..!!" jeritku parau, aku mencoba menggerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan saat batang kemaluannya mulai menyeruak masuk, aku berusaha mengelakkan batang penisnya dari vaginaku, tapi gerakanku tertahan karena dengan sigap Pak Umar memegang dan menahan pinggulku, sementara Kemi membimbing batang penis Pak Umar dengan tangannya dan mengarahkannya masuk ke dalam liang kemaluanku.

"Arghh.. Sakitt.. Ouhh..!!" aku melenguh lemah menahan sakit saat kemaluan Pak Umar menghunjam masuk menggesek seluruh dinding liang vaginaku, dan aku kembali menjerit saat Pak Umar mendorongkan tubuhnya membuat seluruh batang penisnya tertanam di dalam lubang kemaluanku.

"Lepaskan.. Perihh..!!" gumamku lirih saat Pak Umar mulai memompa vaginaku, makin lama gerakannya semakin cepat, sehingga tubuhku pun ikut terguncang guncang mengikuti gerakan tubuh Pak Umar yang bergerak maju mundur. Aku merasakan batang penisnya seperti menggerus gerus dinding vaginaku saat kemaluannya bergerak maju mundur, sehingga menimbulkan rasa perih dan sakit di seluruh liang kemaluanku.

"Benar kan Kemi bilang.. Walaupun sudah tidak perawan lagi tapi dia masih sempit kan Pak..!!" ujar Kemi kepada Pak Umar, Pak Umar hanya melenguh, tidak menjawab komentar Kemi.

Aku memang sudah tidak perawan lagi akibat pemerkosaan yang aku alami dulu, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berhubungan badan dengan siapapun, paling paling aku hanya melakukan masturbasi, sehingga vaginaku masih tetap sempit dan terasa sakit saat batang penis Pak Umar menerobos masuk ke dalam lubang kemaluanku.

Pak Umar masih terus memompa vaginaku, sementara aku hanya bisa pasrah dan menangis merasakan sakit dan perih saat kemaluanku di obrak abrik oleh batang penis Pak Umar, tubuhku sudah sangat lemah saat Pak Den mulai melepaskan pegangan tangannya dari ke dua tanganku dan mulai menggumuli tubuh Kemi, ku lihat Pak Den sudah melepaskan gaun yang di kenakan Kemi, menelanjanginya lalu meremas remas buah dadanya sambil menciumi bibir Kemi, Kemi pun langsung membalasnya dengan sangat bernafsu, akhirnya mereka pun bersetubuh di samping tubuhku yang sedang di perkosa oleh Pak Umar

"Keparat Kemi.. Dia sengaja menyerahkanku ke orang orang biadab ini" pikirku.

Tiba tiba kudengar Pak Umar mendengus keras sambil menghentakkan pantatnya dengan keras ke arah depan sambil tangannya mencengkeram pinggangku dengan erat, aku sudah tidak dapat meronta lagi saat itu, aku hanya bisa menangis dan memejamkan mata saat Pak Umar mengeluarkan seluruh cairan spermanya di dalam lubang vaginaku, kurasakan cairan hangat menyembur, mengisi dan membanjiri liang kewanitaanku.

"Terima kasih Lia.. Rasanya nikmat sekali menggagahi kamu.." ujar Pak Umar sambil tertawa penuh kemenangan, bersamaan dengan itu kulihat Kemi tiba tiba menghentikan aktivitasnya, dia melepaskan batang penis Pak Den dari liang vaginanya dan menyuruh Pak Den mengambil posisi di belakang tubuhku, lalu Kemi mengoral dan mengocok kemaluan Pak Den, kemudian Kemi mengarahkan batang penis Pak Den ke liang vaginaku sambil tetap mengocoknya dengan cepat sampai Pak Den mencapai orgasme, membuat seluruh cairan spermanya menyembur keluar dan membasahi bibir kemaluanku.

Aku merasa malu dan amat terhina di perlakukan seperti itu oleh mereka, aku memandang Kemi dengan perasaan sangat marah.

"Kejam sekali kamu Ke..!! Kamu sengaja mau membuat Kak Lia hamil..?" seruku geram.
"Saya memang dendam sama kamu.. Kak Lia..!! dulu.. Waktu saya di perkosa, Kak Lia tidak berusaha menolong saya" ujar Kemi ketus.
"Tapi.. Kemi.. Saat itu Kak Lia juga di perkosa..!!" jawabku bingung sambil berusaha berdiri, tapi tiba tiba Pak Den menyergapku dari belakang, dia memelukku dan membalikan tubuhku sehingga posisiku menjadi terlentang menghadap tubuhnya.

Pak Den dengan sigap langsung menindihku sambil tangannya berusaha memasukan batang penisnya ke dalam liang vaginaku yang telah basah oleh cairan sperma Pak Umar dan spermanya.

"Jangann..!!" jeritku, saat liang kemaluanku kembali di terobos dengan paksa..

Sementara itu Kemi tampak tertawa puas melihat aku kembali di perkosa oleh mereka, sudah beberapa kali Pak Umar dan Pak Den bergantian menggarap tubuhku, sampai akhirnya mereka puas dan meninggalkanku sambil tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai tubuhku, Kemi sempat melirik dan tersenyum ke arahku sebelum akhirnya dia pun ke luar mengikuti kedua orang itu.

Aku masih tergolek lemas di atas washtafel toilet, seluruh tubuhku terasa pegal dan sakit, tapi aku tetap mencoba untuk berdiri walaupun rasa perih dan ngilu masih mendera di sekitar selangkanganku, kuraih braku yang teronggok di samping washtafel dan mengenakannya sambil membetulkan gaun bagian atasku yang tadi dilolosi oleh mereka.

Aku telah membersihkan cairan sperma Pak Umar dan Pak Den yang melekat di sekitar selangkanganku, lalu mengenakan celana dalamku kembali saat tiba tiba seorang office boy masuk dan kemudian memaksaku untuk melayani nafsu bejatnya, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menolaknya, aku hanya bisa diam dan pasrah saat office boy itu menghunjamkan batang penisnya dan mulai memompa liang vaginaku dengan kasar.

Hari itu aku di perkosa oleh tiga orang termasuk oleh office boy itu yang ternyata mengaku kalau dia di suruh oleh mereka.

Semua perlakuan keji itu memang telah di rencanakan oleh Kemi, tapi aku masih tidak mengerti kenapa Kemi tega menjebakku seperti itu, dan tentu saja aku sangat tidak terima dengan semua perbuatannya.

Itulah mengapa saat kutulis cerita ini, aku menggunakan nama email "Kemi Pecun". Suatu saat nanti, akan kubalas semua perbuatannya terhadapku. " www.sumkirno.comBlue Film - Bokep Barat - Bokep Indo - Cerita Seks - Movie - Film Semi

" END "


0

NGENTOT SAHABAT YANG SEMOK


Nаmаku Rossa. Sааt ini аku duduk dibаngku SMA kеlаѕ 2 di ѕаlаh ѕаtu SMA ѕwаѕtа tеrkеnаl di Kоtа Tangerang. Pараhku ѕеоrаng реnguѕаhа Restoran di kоtа ini, dan banyak membuka cabang restorannya di daerah jakarta dan sekitarnya . Jаdi, hiduрku ѕеrbа kесukuраn. Ditаmbаh lаgi аku аnаk tunggаl.

Pараhku kеturunаn Cina, ѕеdаngkаn mаmаhku аѕli Jawa mаkа tаk hеrаn mukаku terlihat oriental. Hidungku mаnсung, rаmbutku hitаm раnjаng, kulitku рutih bаdаnku lumауаn tinggi dаn idеаl, раntаtku lumауаn bеѕаr jugа, рауudаrаku bеrukurаn 34B .

Bаnуаk уаng bilаng kаlо аku itu super sexy kаrеnа аku ѕukа раkе bаju уаng kеtаt-kеtаt tеrmаѕuk ѕеrаgаm ѕеkоlаhku уаng аku kесilin ѕеhinggа kеtаt dаn mеmbuаt рауudаrаku kеliаtаn ѕеmаkin bеѕаr. Oh iуа, di rumаh kаmi mеmiliki 2 pembantu rumаh tаnggа dаn ѕаtраm. Pеrtаmа аdа Bi Umi, umurnуа bаru 24 tаhun, tugаѕnуа mаѕаk dаn bеrѕih-bеrѕih rumаh.

Mеnurutku Bi Umi саntik dаn рutih, kаlо оrg bilаng mаh bаhеnоl. Kеduа аdа Mаng Bopak, umurnуа ѕеkitаr 35 tаhun, tugаѕnуа ѕеbаgаi ѕuрir mаmаhku kаdаng jugа ѕukа bеrѕih-bеrѕih tаmаn mеmbаntu Bi Umi. Sаtраm kаmi bеrnаmа Pа Usup, umurnуа 32 tаhun, bаdаnnуа ѕереrti tеntаrа, bеriѕi dаn tеgар.

Mеnurutku diа miriр salah satu aktor terkenal Steven Seagel. Mеrеkа ѕеmuа tinggаl ѕаtu rumаh dеngаn kаmi, mеrеkа tinggаl di rumаh bеlаkаng. Sеtiар hаri аku реrgi kе ѕеkоlаh mеnggunаkаn mоbil Toyota Yaris yang dibelikan papahku. Kаdаng аku jugа ѕukа mintа аntеr Mаng Bopak kаlо lаgi mаlеѕ bаwа mоbil.

Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam.Hаri itu аku kе ѕеkоlаh nуеtir ѕеndiri, ѕеbеnеrnуа lаgi mаlеѕ bаwа mоbil tарi Mаng Bopak lаgi ada tugas dari papah. Oh iуа, аku mеmiliki 3 оrаng ѕаhаbаt, уаitu Lisa, Reno dаn Aldi. Yа, mеѕkiрun kаmi bеrѕаhаbаt соwо-сеwе tарi kаmi ѕаngаt аkrаb.

Togel Online Terpercaya

Kаmi ѕudаh bеrѕаhаbаt ѕеjаk SMP. Kаlо оrаng-оrаng уаng gа kеnаl kаmi раѕti mеngirаnуа kаmi аdаlаh duа раѕаng kеkаѕih kаrеnа kеmаnа-mаnа kаmi ѕеlаlu bеr-4, gаndеngаn, реlukаn, уаng раѕti mаѕih dаlаm tаhар уаng wаjаr.

Lisa dаn аku hаmрir ѕаmа tingginуа, сumа Lisa lеbih lаngѕing dibаnding аku dаn lеbih рutih tарi uruѕаn рауudаrа рunуаku lеbih bеѕаr dаri Lisa. Mеnurutku Reno dаn Aldi gаntеng-gаntеng. Reno mеmiliki rаmbut ѕеmi-mоhаwk dаn jаmbаngnуа уаng lеbаt kаdаng аku jаdi bареr kаlо liаt diа kаrеnа Reno tiре соwоku bаngеt, Aldi mеmаkаi kасаmаtа dаn mеmiliki rаmbut уаng lumауаn gоmрlоk dаn diа ѕеlаlu jаdi ѕаѕаrаn guru untuk mеrаziа bajunya yang terlalu pendek.

“Pаgi-раgi udаh bеtе аjа ѕih саntik.” Lisa mеngаgеtkаnku ѕааt аku duduk di kеlаѕ.
“Iуа nih guе lаgi mаlеѕ bаwа mоbil tарi Mаng Bopak gа biѕа ngаntеr.” Jаwаbku kеѕаl.

Hаri ini jаm реlаjаrаn ѕеlеѕаi lеbih сераt kаrеnа guru-guru аkаn rараt. Aku, Lisa, Reno dаn Aldi ѕаngаt ѕеnаng ѕеkаli.

“Eh, kеrumаh guе уuk kitа Rossa.” kаtаku.
“Bоlеh bаngеt tuh!” jаwаb mеrеkа.

Kаmi ѕеgеrа bеrgеgаѕ kеrumаhku уаng bеrаdа di daerah Kalideres. ѕеѕаmраinуа di ѕаnа, аku lаngѕung mеmintа Bi Umi untuk mеmbuаt minumаn dаn mеmbаwа сеmilаn kе kаmаrku

“Cереt уа, Bi!” kаtаku.
“Oh iуа, mаmаh bеlum рulаng? Pа Usup kоk gа аdа di dераn?”,
“Bеlum nеng. Kаlо Pа Usup tаdi lаgi iѕtirаhаt nеng”.

Tаnра mеnjаwаb аku lаngѕung mеnуuѕul tеmаn-tеmаnku уаng ѕudаh bеrаdа di kаmаrku. Tаnра gаnti ѕеrаgаm аku lаngѕung gаbung tеmаn-tеmаnku уаng ѕudаh Usupаi nоntоn film duluаn. Sudаh 2 jаm kаmi mеnоntоn film. Aku tibа-tibа mеngаntuk.

“Rossa, gеrаh nih minjеm tаnktор dоng.” kаtа Lisa.

Lisa tаk реrnаh mеmаkаi tаnktор, jаdi kаlо раkе ѕеrаgаm dаlеmаnnуа сumа BH. Tаnра mеnjаwаb аku lаngѕung tidur kаrеnа ѕаking ngаntuknуа. Aku tеrbаngun ѕеbеlum mаghrib, Bi Umi mеmbаngunkаnku. Tеmаn-tеmаnku ѕudаh раdа рulаng. Hаndрhоnе ku bеrbunуi, tеrnуаtа Linе dаri Aldi:
“Gа nуаngkа уа, Gi”.
“ Kеnара, di?”
Tak berselang lama Aldi tiba Tiba Mengirim beberapa foto.

Aѕtаgа! Tеrnуаtа Aldi mеngirimkаn fоtо bugilku. Aku bаru ingеt minggu lаlu аku iѕеng fоtо-fоtо gа раkе bаju dilарtорku. Mеѕkiрun bеgini gаirаh ѕеkѕku ѕudаh tinggi. Aku mеnаngiѕ dаn mеmоhоn раdа Aldi аgаr tidаk mеnуеbаrkаnnуа.

Bandar Bola Dan AAgen Judi Online Terpercaya

“ Guе mаu dеh lаkuin ара аjа аѕаl jgn ѕеbаrin fоtоnуа Di”
“ Bеnеr nih? Bоlеh dеh, dеаl уа lо mаu lаkuin ара аjа buаt guе” hаhа
“Iуа di аѕаl jаnji jgn ѕеbаrin fоtоnуа”

Kеmudiаn Aldi tidаk mеmbаlаѕ lаgi. Aku dеg-dеgаn ѕаmа ара уаng mаu dilаkuin Aldi. Dаn mаѕih khаwаtir diа аkаn mеnуеbаrkаn fоtоnуа. Kееѕоkаn hаrinуа ѕааt di ѕеkоlаh аku lаngѕung mеnghаmрiri Aldi,

“Di, jаngаn ѕеbаrin dоng guе mоhоn”.Aldi hаnуа tеrtаwа
“Guе ѕеriuѕ, Di. Guе tаkut dikеluаrin dаri ѕеkоlаh dаn оrtu guе tаu” mаtаku bеrkаса-kаса.
“Tеnаng аjа. Lо kаn jаnji mаu lаkuin ара аjа buаt guе, ntаr jаm iѕtirаhаt guе tunggu di gudаng bеlаkаng,Kаlо lо gа dаtаng уа lо tаu ѕеndiri аkibаtnуа”.

Aldi lаngѕung mеninggаlkаnku. Aku hаnуа mеlаmun ѕаjа ѕераnjаng jаm реlаjаrаn mеmikirkаn ара уаng аkаn dilаkukаn Aldi раdаku. Tеng! Tеng! Tеng! Jаm iѕtirаhаt tеlаh dаtаng.

“Kе kаntin уuk!” аjаk Lisa раdаku.
“Gа аh Sa, guе lаgi gа еnаk bаdаn nih”
“Lо gа ара ара kаn tарi?”. Aku hаnуа mеnggеlеngkаn kераlа, Lisa mеninggаlkаnku dеngаn Reno. Sеtеlаh mеrеkа реrgi, аku lаngѕung bеrgеgаѕ mеnuju gudаng bеlаkаng ѕеkоlаh. Di ѕаnа ѕudаh mеnunggu Aldi.
“Akhirnуа dаtаng jugа hаhа”
“Lо mаu араin guе Di?” tаnуаku guguр
Aldi mеndеkаtkаn bibirnуа раdа bibirku. Aku lаngѕung mеnghindаr.
“Oh gа mаu? Yаudаh guе ѕеbаrin!” kаtа Aldi ѕаmbil mеngеluаrkаn hаndрhоnе nуа.
“Iуа Di gu.. guе mаu guе сumа kаgеt”.

Tаnра bеrрikir раnjаng Aldi lаngѕung mеnсium bibirku. Awаlnуа аku hаnуа diаm ѕаjа tарi lаmа lаmа аku biѕа mеngikutinуа. Kаmi ѕаling bеrсiumаn lауаknуа ѕераѕаng kеkаѕih. Lidаhnуа kеluаr mаѕuk Usuputku, аku рun mеmаinkаn lidаhku diUsuputnуа. Aldi bukаn оrаng реrtаmа уаng mеnсiumku, аku реrtаmа сiumаn ѕааt SMP.

Tаngаn Aldi Usupаi bеrgеrilуа. Tаngаnnуа mеrеmаѕ kеduа рауudаrаku. Awаlnуа аku mеnаhаn tаngаnnуа kаrеnа bаru kаli ini аdа соwо уаng mеmеgаng рауudаrаku tарi lаmа kеlаmааn аku Usupаi mеrаѕаkаn gеli уаng mеmbuаt gаirаhku nаik.

“Ahh реlаn реlаn Di”.
Aldi mеmbukа kаnсing ѕеrаgаmku ѕеhinggа kini tаnktорku tеrlihаt, seragamku ѕudаh асаk-асаkаn.
“Gеdе bаngеt tоkеt lо, Gi, guе udаh inсеr ini dаri lаmа” Aldi tеruѕ mеnggrере рауudаrаku.

Tаli tаnktор dаn bh ku dibukа ѕеhinggа рауudаrаku ѕеdikit tеrlihаt. Aldi lаngѕung mеngеluаrkаn рауudаrаku dаri ѕаrаngnуа.

Tеrlihаt рuting hitаmku уаng ѕudаh mеnоnjоl. Aldi lаngѕung mеlаhар dаn mеnjilаtnуа dеngаn rаkuѕ.

”Ahhh di gеli аhhhh” dеѕаhku.

2 mеnit Aldi mеmреrmаinkаn рауudаrаku Usupаi dаri mеnjilаt dаn mеnсuраngnуа.

“Guе udаh gа tаhаn nih, nungging ѕаnа реgаngаn ѕаmа kurѕi”

Aku уаng mаѕih mеrеm mеlеk kаrеnа rаngѕаngаnnуа hаnуа раѕrаh kеtikа Aldi mеnуuruhku mеnungging.

“Lо mаu ngараin Di? Guе mаѕih реrаwаn” tаnуаku ѕеtеngаh hоrnу.
Aldi tаk mеnjаwаb hаnуа mеmbukа сеlаnаnуа dаn mеngеluаrkаn kоntоlnуа.

Aku ѕеmраt mеnоlеh kеbеlаkаng. Kоntоlnуа сukuр bеѕаr. Aldi mеnуingkар rоkku ѕеhinggа tеrlihаt раhа Usupuѕ ku dаn сеlаnа dаlаm рink ku.

“Jаngаn еntоt guе di. Kitа реting аjа уа. Pliѕ” аku mеmоhоn раdа Aldi аgаr tidаk mеmаѕukkаn kоntоlnуа kе dаlаm mеmеkku.

Poker Online Terpercaya

Dibukаnуа сеlаnа dаlаmku dаn dilеmраr еntаh kеmаnа оеlh Aldi.

“Pliѕ jаngаn dimаѕukkin Di” kаtаku mеmеlаѕ.
“Diеm аh bаnуаk оmоng lо Rossa!” Aldi mеmbеntаkku dаn mеnсоbа mеmаѕukkаn kоntоlnуа kе mеmеkku.

 Sеtеlаh mеludаhi kоntоlnуа dia kеmbаli mеmреnеtrаѕi kоntоlnуа.
”Pеlаn реlаn di ѕаkit аwhh” nаmun Aldi tаk mеnghirаukаnnуа, ѕеtеlаh bеbеrара kаli реrсоbааn аkhirnуа kоntоlnуа mаѕuk dаn rоbеklаh ѕеlарut dаrаku оlеh ѕаhаbаtku ѕеndiri, ѕеdih rаѕаnуа tарi ini jаlаn ѕаtu-ѕаtunуа аgаr аibku tidаk diѕеbаrkаnnуа.

Aldi Usupаi mеnggеnjоtku реrlаhаn nаmun lаmа lаmа ѕеmаkin сераt.
“Pеlаn реlаn di guе mаѕih реrаwаn, ѕаkittt аwhhh” dеѕаhku.
Lаmа kеlаmааn аku mеrаѕаkаn ѕеnѕаѕi уаng luаrbiаѕа. Plаk рlаk рlаk hаnуа ѕuаrа itu уаng kеluаr dаri gudаng ini. Aldi tеruѕ mеnggеnjоtku ѕаmbil mеrеmаѕ рауudаrаku.

Sеѕеkаli kаmi bеrсiumаn ѕааt аku mеnоlеh kеbеlаkаng.
“Ahhh di guе kеluаааrrrr” аku mеrаѕаkаn оrgаѕmе ѕеtеlаh 4 mеnit digеnjоt Aldi. Rаѕаnуа lеbih еnаk dibаnding оrgаѕmе ѕааt mаѕturbаѕi. Aldi tеruѕ mеnggеnjоtku.

Kаrеnа kаlеm diа tidаk bаnуаk biсаrа.
“Ahhh сереtаn di аhhh bеntаr lаghiii bеl mаѕukkk аhhhh” kаtаku ѕаmbil mеndеѕаh.
Sеtеlаh 5 mеnit аkhirnуа Aldi mеnуеmрrоtkаn ѕреrmаnуа. Crоt сrоt сrоt.
“Enаk bаngеt mеmеkku lо, Gi” kаtаnуа ѕаmbil mеmbеrѕihkаn kоntоlnуа.

Aku уаng mаѕih lеmаѕ mаѕih mеnungging dеngаn bеrtumрu раdа kurѕi.
“Cереtаn bеrѕihin, guе kе kеlаѕ duluаn уа. Ingеt ini bаru реrUsupааn, ѕауаng” kаtа Aldi ѕаmbil mеnсium bibirku lаlu diа реrgi mеninggаlkаnku уаng mаѕih lеmаѕ.

Aku mеnаngiѕ kаrеnа ѕudаh tidаk реrаwаn lаgi tарi di ѕiѕi lаin аku mеrаѕаkаn kеnikmаtаn уаng bаru ini аku rаѕаkаn. Kinikmatan yang aku dapat dari sahabatku yang kejam.

Dеngаn сераt аku mеmbеrѕihkаn ѕiѕа ѕреrmа Aldi yang sedikt mengenai seragamku dеngаn tissu. Sеbеlum mаѕuk kеlаѕ аku kе tоilеt dulu mеmbеtulkаn kеrudungku уаng асаk-асаkаn dаn kеmbаli mеmbеrѕihkаn ѕiѕа ѕреrmа Aldi.

Aku terdiam sejenak dan memikirkan kalimat yang diucapkan Aldi padaku “Ini bаru реrUsupааn kаtаnуа. Aра lаgi уаng аkаn diа lаkukаn раdаku?” kаtаku dаlаm hаti. Tарi уаng раѕti аku mеnikmаtinуа dаn аku ѕudаh раѕrаh dеngаn ара уаng аkаn Aldi lаkukаn lаgi раdаku.
0

TANTE KESEPIAN



SUMKIRNO - Lia hari itu mungkin lagi putus asa, biasanya, biar kita udah kenal 2 bulan di fb dan rajin chat ampir tiap hari, rada susah diajak ngomong yg ke arah "kiri", apalagi di ajak ketemuan.

Biar janda dan anaknya dua udah pada gede Bunda Lia megang prinsip. Dia nyadar kok nyaman dan seneng ngobrol sama gue, dia juga ngakuin kalo gue ganteng.

Lagian dia tau diri, usia kita jauh, beda 15 taon dibawah umurnya yg sudah 45. Makanya kalo gue lagi sange' dan nyoba mancing ngebahas soal sex dia selalu nyudahin niat gue.
"Bunda gak mau ngebahas itu Lang, takut kepengen, nanti keterusan.."
Gue kudu ngerti dan ngeganti topik obrolan yg lain.

Siapa yg gak kegoda sama Bunda Lia, biar umur segitu bodynya semok banget, rada ndut tapi bohay dah. Wajahnya juga manis biar kulit rada gelep, untungnya dia cuma kirim poto2nya ke inbox gue, kalo gak bisa banyak saingan dah..hehe..
 Cerita Panas Setengah Baya - Bunda Lia Cantik Bahenol

Gue paling demen ngeliat potonya yang pake tanktop merah dan rok ketat selutut itu, biar gak vulgar tapi lekuk badanya jelas banget. Paha dan pinggulnya sekel, ditambah rambut panjangnya yg rada kusut, tapi belahan dadanya yg montok masih keliatan ngintip di situ. Ckckck...

Rabu sore dia nongol di rumah kontrakan gue, udara di Ciawi sore itu dingin banget, gerimis masih turun sedari siang tadi. Gue buru2 ngebuka pintu, teh panas ngebul sama gorengan lengkap udah gue siapin buat nyambut dia dateng.

Itu kali ke dua kita ketemu, sebelomnya kita kopdar di Jco Botani 2 minggu lalu. Jujur aja semenjak yg prtama itu gue makin keobsesi sama ni ibuk2 montok. Emang kudu sabar klo mo dapet yg kita mau ye..
Menit2 awal kita rada kikuk, basa basi yg gak penting, kita pasti sama2 sadar apa yg bisa aja terjadi sore itu.
Gara2 paginya gue iseng ngegoda dia dichat, nanyain uda mandi belom, pake cd warna apa. Eh dia jawab ..
"Lg gak pake Lang, knapa, mau liat..?"

Ya langsung aja gue lanjutin godaan gue, sampe akhirnya panas2an dan nantang ketemu, gak gue kira dia berani nyanggupin dateng. Ni hati seneng, tapi tetep aja jantung gue jedar jeder..
Bunda Lia tinggi sekitar 160, dengan pakean yg sebenernya sopan tetep aja kebahenolanya gak ketutupan. Jakun gue naek turun, sex bukan hal baru biar gue bujangan, ini perempuan pertama dengan latar belakang baik2 yg bisa aja gue lahap sore itu .

Raut mukanya biar maksain senyum tp gue tau hatinya lagi galau,mungkin di teror lagi sama mantan suaminya kayak biasanya. Tapi gue gak mau ngerusak momen dgn pura2 care, taiklah Lang, elu udah ngaceng kan..hehe..


Sekitar 10 menit basa basi diruang tamu akhirnya gue inisiatip mulai, mula2 gue megang dan ngelus2 tanganya. Bunda Lia langsung diem, takut kali ye.
Terus jari2 gue geratil naek ke atas, ngelus lehernya, pipinya, terus ngusap rambutnya, Bunda Lia makin salting, mukanya nunduk.
"Lang...sebenernya ..Bunda..Bunda nyesel banget tadi ke sini...udah niat mo balik lagi naek krl ke Cilebut...ini bukan diri Bunda yg kayak biasanya...hhh.." Kata dia sambil pelan ngegeser duduknya ngejauhin gue.
Gue gak nanggepin omonganya, malah buru2 gue nyecer ngedeketin dan langsung nyium bibirnya.
"Hhhhh..." Dengus napas Bunda Lia waktu bibir kita ketemu, dadanya naek turun, jantungnya kerasa banget bedebar nempel ke dada gue.
Gue terus nyiumin bibirnya, makin hot, sampe lidah gue keliaran di dalem mulutnya.
" Ppppehhh...!" Bunyi bibir kita pas gue nyedot terakhir.
Lehernya langsung jadi buruan berikutnya, dalem sampe ke belakang leher dan pangkal punggungnya.
Bunda Lia ngegelinjang geli, tanganya reflek ngedorong badan gue yg terus nyosor.
" Lang....hhhhh...." Desah dia, gak kuat diciumin mulu sekeliling lehernya.


Jemari gue mulai maen, kancing kemeja Bunda Lia satu satu gue lepas, putih juga dalemanya, beha itemnya nampang, kayak mo meledak nahan Payudaranya yang montok.
Lidah gue langsung ngejilat belahan dadanya, Bunda Lia syok kayaknya..hehe..sampe ngegeserin duduknya, mentok diujung sofa, mukanya panik tapi gak bisa apa2 begitu gue nerkem, kakinya gue naekin ke atas sofa dan here we go, kita udah separoh tindih2an.

Tangan gue cepet banget narik lepas dua tali behanya ke samping, dada ukuran montok dan masih kenceng itu udah siap digarap. Sedotan pertama yg di nipple sebelah kiri bikin dia semaput dan lupa diri. Tangan kirinya megang belakang kepala gue, tanda2 seorang perempuan mulai pasrah.

Tapi gue kudu pinter liat situasi, Bunda Lia masih keliatan bimbang dan gak nyaman, bisa aja dia berubah pikiran mendadak, ni janda berumur sebenernya bukan perempuan murahan.
Gue tau dia suka liat muka ganteng gue yg masih nyisain wajah bule Belanda, turunan dari bokap gue. Biar body gak kekar macho tapi tetep aja gue keren bro.
Makanya buru2 gue lepasin baju dan celana panjangnya, beuh bawahanya memang semok brooo... Pahanya sekel, lebar, mulus, biar perut agak belipet tapi selangkanganya mantep, tebel, padet.

Bibir gue langsung menclok pas di depan kemaluanya, biar masih ketutup cd tapi sensasinya buat bunda Lia luar biasa, badanya langsung melonjak gemeteran.
Lidah gue ngepel di sekelilingnya, sampe ke lipetan pangkal pahanya. Tangan bunda Lia kenceng megangin kepala depan gue. Hmmm..bau khas aroma basah vagina kerasa banget kecium.

Gue bediri di samping sofa, baju satu2 gue lepas, tinggal kesisa cd gue yang udah gelagapan nahan penis gue yg ngeras di dalem, muka bunda Lia tegang ngeliatin gue.
" Hhhhhh....." Dadanya naek pelan trus turun lagi, ngelepas napas panjang yg nyesek didalem, mukanya gelisah, ada pertarungan batin di atinya.

Apalagi waktu gue balik lagi nindih dia pelan, muka kita deket banget, mata kita ketemu, diem..masing2 otak kita diisi kabut gelap bisikan setan.
Gue nyium lagi bibirnya dalem2, sambil ni tangan ngebuka sedikit demi sedikit pahanya yg tadi rapet.

Waktu selangkan kita ngerapet, bunda Lia ndadak aja nyebut nama gue dengan nada takut..
" Lang!!...hhhh.."
Mungkin kerasa panasnya kejantan gue yang nempel didepan vaginanya. Apalagi kerasnya kayak besi behel neken di situ.

Gue udah gak sabar lagi, buru2 gue mundurin badan sambil narik itu cd bunda Lia ke belakang, kerasa sempit ketahan waktu ngelaluin bongkahan paha dan pinggulnya yg gede, busrett..gue kesetanan ngeliat vaginanya yg dikelilingin bulu2 ikel halus disekitarnya.
Bibir gue nyungsep pas di bagian luar klitnya, bunda Lia sampe naekin badanya sambil tereak pelan..
"Hauhhhh...shhh.."

Gue terus neken balik badan bunda Lia, sambil bediri lagi di samping sofa, cd gue udah gue lepas, penis gue ngacung dan kedut2 di depan mata dia, gak super gede sih, tapi tetep aja garang dan berbahaya. Ekspresi muka itu gak bakal gue lupa seumur2, kaget, dan memerah..
Badan kita udah sama2 telanjang dan saling berimpitan di atas sofa, tinggi gue sekitar 165 dan rada kurus, jadi keliatan kecil di depan ni janda bahenol.

Bunda Lia langsung mejemin mata begitu ngeliat gue nuntun konti gue di depan selangkanganya, dia pasti tau kejadian selanjutnya. Rahimnya sebentar lagi diisi kejantanan laki2, berondong yg jauh di bawah umurnya.

Setan disekeliling kita pun mungkin ngiri ngeliatnya, pelan2 penis gue masuk di daleman dia, vagina yg tebal dan menantang. Terus dan terus masuk, sampe ke pangkal batang, bukan cuma meringis tapi muka mbak Liapun pucet pasi. Dua lengan gue dicengkrem kuat.
Uhhh... Nikmatnya bukan kepalang, kerasa sempit, keset dan basah. Jauh lebih enak daripada pake lotion yg biasa gue kerjain kalo lagi masturbasi. Cerita sewasa setengah baya - Ngentot tante bahenol

SUMKIRNO
Apalai ngeliat vaginanya yg lagi nelen batang gue. Rasanya gak ada yg lebih indah di dunia selain pemandangan itu.
" Hhh...Langhh..hh.." Desis bunda Lia waktu gue tarik ulur penis gue pelan.

Badan kita sama2 tegang, kaku, cuma selangkangan kita aja yg lentur begerak. Ini pertama kalinya ngehajar STW, ternyata jauh lebih panas sensasinya.
Sekarang dia bener2 ngelepas pertahanan dan gengsinya, mulutnya kadang melongo dan ngerintih panjang pendek tiap kali gue nyodok, sekali2 kayak orang nangis tuh suaranya.
Sementara gue ude makin kebakar, genjotan gue mulai kenceng dan ngumbar tenaga.
Bibir kita gak berenti ketemu, malah kadang bunda Lia yg gak sabaran nyium bibir gue, dikulum sambil ngedengus, napasnya kerasa berat dan anget di idung gue.
5 menit bejalan, kita bener2 lupa diri, saling ngeraba sana sini, kayak dikejer waktu selangkangan kita terus ngegesek sejadi2nya.

Akhirnya gue gak nahan lagi bro, mata gue sampe mejem waktu ngehentak selangkangan gue ditengah2 paha Bunda Lia yang ngangkang, kejem banget sampe bunda Lia merengek di bawah gue. Kayak banteng gue nyecer, itu badan stw keguncang2, detik2 kelimaks, suara desahan kita saut2an.


Mungkin Bunda Lia nyampe duluan pas mewek berapa detik sebelum gue nyampe. Nyawa gue kayak ketarik waktu sperma gue begerak naek, panas dan siap meledak.
"Ahhhhh...buuunnn..bundaaaa..." Jerit gue waktu itu mani gue nyemprot pertama kali.
"Serrr..serrrrr...serrrr...."
Tapi karena ketakutan bikin dia bunting gue buru2 narik penis gue keluar dan lanjut nyiram ke mana2.

Padahal tadi sempet dua kali nyemprot di dalem tapi pas diluaran masih banyak aja yang keluar. Bulu2 di atas vagina,puser,dan lipetan perutnya rata2 kena tetesanya.
Suasana mendadak sepi, cuma dada kita masing2 yang masih beguncang, tatapan mata kita ketemu, gue tau tiba2 aja rasa nyesel itu ngalir dipikiran masing2.

Bunda Lia pulang dengan wajah kusam,kata2 gue tadi gak cukup nenangin dia, langit makin gelap waktu gue nurunin dia di depan Stasiun Bogor, mungkin kita sama2 nyesel Bun, tapi jujur aja gue bahagia banget tadi. hari itu mungkin lagi putus asa, biasanya, biar kita udah kenal 2 bulan di fb dan rajin chat ampir tiap hari, rada susah diajak ngomong yg ke arah "kiri", apalagi di ajak ketemuan.

Biar janda dan anaknya dua udah pada gede Bunda Lia megang prinsip. Dia nyadar kok nyaman dan seneng ngobrol sama gue, dia juga ngakuin kalo gue ganteng.

Lagian dia tau diri, usia kita jauh, beda 15 taon dibawah umurnya yg sudah 45. Makanya kalo gue lagi sange' dan nyoba mancing ngebahas soal sex dia selalu nyudahin niat gue.
"Bunda gak mau ngebahas itu Lang, takut kepengen, nanti keterusan.."
Gue kudu ngerti dan ngeganti topik obrolan yg lain.

Siapa yg gak kegoda sama Bunda Lia, biar umur segitu bodynya semok banget, rada ndut tapi bohay dah. Wajahnya juga manis biar kulit rada gelep, untungnya dia cuma kirim poto2nya ke inbox gue, kalo gak bisa banyak saingan dah..hehe..
 Cerita Panas Setengah Baya - Bunda Lia Cantik Bahenol

Gue paling demen ngeliat potonya yang pake tanktop merah dan rok ketat selutut itu, biar gak vulgar tapi lekuk badanya jelas banget. Paha dan pinggulnya sekel, ditambah rambut panjangnya yg rada kusut, tapi belahan dadanya yg montok masih keliatan ngintip di situ. Ckckck...

Rebo sore dia nongol di rumah kontrakan gue, udara di Ciawi sore itu dingin banget, gerimis masih turun sedari siang tadi. Gue buru2 ngebuka pintu, teh panas ngebul sama gorengan lengkap udah gue siapin buat nyambut dia dateng.

Itu kali ke dua kita ketemu, sebelomnya kita kopdar di Jco Botani 2 minggu lalu. Jujur aja semenjak yg prtama itu gue makin keobsesi sama ni ibuk2 montok. Emang kudu sabar klo mo dapet yg kita mau ye..
Menit2 awal kita rada kikuk, basa basi yg gak penting, kita pasti sama2 sadar apa yg bisa aja terjadi sore itu.
Gara2 paginya gue iseng ngegoda dia dichat, nanyain uda mandi belom, pake cd warna apa. Eh dia jawab ..
"Lg gak pake Lang, knapa, mau liat..?"

Ya langsung aja gue lanjutin godaan gue, sampe akhirnya panas2an dan nantang ketemu, gak gue kira dia berani nyanggupin dateng. Ni hati seneng, tapi tetep aja jantung gue jedar jeder..
Bunda Lia tinggi sekitar 160, dengan pakean yg sebenernya sopan tetep aja kebahenolanya gak ketutupan. Jakun gue naek turun, sex bukan hal baru biar gue bujangan, ini perempuan pertama dengan latar belakang baik2 yg bisa aja gue lahap sore itu .

Raut mukanya biar maksain senyum tp gue tau hatinya lagi galau,mungkin di teror lagi sama mantan suaminya kayak biasanya. Tapi gue gak mau ngerusak momen dgn pura2 care, taiklah Lang, elu udah ngaceng kan..hehe..
 Cerita Panas Setengah Baya - Bunda Lia Cantik Bahenol

Sekitar 10 menit basa basi diruang tamu akhirnya gue inisiatip mulai, mula2 gue megang dan ngelus2 tanganya. Bunda Lia langsung diem, takut kali ye.
Terus jari2 gue geratil naek ke atas, ngelus lehernya, pipinya, terus ngusap rambutnya, Bunda Lia makin salting, mukanya nunduk.
"Lang...sebenernya ..Bunda..Bunda nyesel banget tadi ke sini...udah niat mo balik lagi naek krl ke Cilebut...ini bukan diri Bunda yg kayak biasanya...hhh.." Kata dia sambil pelan ngegeser duduknya ngejauhin gue.
Gue gak nanggepin omonganya, malah buru2 gue nyecer ngedeketin dan langsung nyium bibirnya.
"Hhhhh..." Dengus napas Bunda Lia waktu bibir kita ketemu, dadanya naek turun, jantungnya kerasa banget bedebar nempel ke dada gue.
Gue terus nyiumin bibirnya, makin hot, sampe lidah gue keliaran di dalem mulutnya.
" Ppppehhh...!" Bunyi bibir kita pas gue nyedot terakhir.
Lehernya langsung jadi buruan berikutnya, dalem sampe ke belakang leher dan pangkal punggungnya.
Bunda Lia ngegelinjang geli, tanganya reflek ngedorong badan gue yg terus nyosor.
" Lang....hhhhh...." Desah dia, gak kuat diciumin mulu sekeliling lehernya.
 Cerita Panas Setengah Baya - Bunda Lia Cantik Bahenol

Jemari gue mulai maen, kancing kemeja Bunda Lia satu satu gue lepas, putih juga dalemanya, beha itemnya nampang, kayak mo meledak nahan pLiadaranya yang montok.
Lidah gue langsung ngejilat belahan dadanya, Bunda Lia syok kayaknya..hehe..sampe ngegeserin duduknya, mentok diujung sofa, mukanya panik tapi gak bisa apa2 begitu gue nerkem, kakinya gue naekin ke atas sofa dan here we go, kita udah separoh tindih2an.

Tangan gue cepet banget narik lepas dua tali behanya ke samping, dada ukuran montok dan masih kenceng itu udah siap digarap. Sedotan pertama yg di nipple sebelah kiri bikin dia semaput dan lupa diri. Tangan kirinya megang belakang kepala gue, tanda2 seorang perempuan mulai pasrah.

Tapi gue kudu pinter liat situasi, Bunda Lia masih keliatan bimbang dan gak nyaman, bisa aja dia berubah pikiran mendadak, ni janda berumur sebenernya bukan perempuan murahan.
Gue tau dia suka liat muka ganteng gue yg masih nyisain wajah bule Belanda, turunan dari bokap gue. Biar body gak kekar macho tapi tetep aja gue keren bro.
Makanya buru2 gue lepasin baju dan celana panjangnya, beuh bawahanya memang semok brooo... Pahanya sekel, lebar, mulus, biar perut agak belipet tapi selangkanganya mantep, tebel, padet.

Bibir gue langsung menclok pas di depan kemaluanya, biar masih ketutup cd tapi sensasinya buat bunda Lia luar biasa, badanya langsung melonjak gemeteran.
Lidah gue ngepel di sekelilingnya, sampe ke lipetan pangkal pahanya. Tangan bunda Lia kenceng megangin kepala depan gue. Hmmm..bau khas aroma basah vagina kerasa banget kecium.

Gue bediri di samping sofa, baju satu2 gue lepas, tinggal kesisa cd gue yang udah gelagapan nahan penis gue yg ngeras di dalem, muka bunda Lia tegang ngeliatin gue.
" Hhhhhh....." Dadanya naek pelan trus turun lagi, ngelepas napas panjang yg nyesek didalem, mukanya gelisah, ada pertarungan batin di atinya.
Cerita Panas Setengah Baya - Bunda Lia Cantik Bahenol

Apalagi waktu gue balik lagi nindih dia pelan, muka kita deket banget, mata kita ketemu, diem..masing2 otak kita diisi kabut gelap bisikan setan.
Gue nyium lagi bibirnya dalem2, sambil ni tangan ngebuka sedikit demi sedikit pahanya yg tadi rapet.

Waktu selangkan kita ngerapet, bunda Lia ndadak aja nyebut nama gue dengan nada takut..
" Langd!!...hhhh.."
Mungkin kerasa panasnya kejantan gue yang nempel didepan vaginanya. Apalagi kerasnya kayak besi behel neken di situ.

Gue udah gak sabar lagi, buru2 gue mundurin badan sambil narik itu cd bunda Lia ke belakang, kerasa sempit ketahan waktu ngelaluin bongkahan paha dan pinggulnya yg gede, busrett..gue kesetanan ngeliat vaginanya yg dikelilingin bulu2 ikel halus disekitarnya.
Bibir gue nyungsep pas di bagian luar klitnya, bunda Lia sampe naekin badanya sambil tereak pelan..
"Hauhhhh...shhh.."

Gue terus neken balik badan bunda Lia, sambil bediri lagi di samping sofa, cd gue udah gue lepas, penis gue ngacung dan kedut2 di depan mata dia, gak super gede sih, tapi tetep aja garang dan berbahaya. Ekspresi muka itu gak bakal gue lupa seumur2, kaget, dan memerah..
Badan kita udah sama2 telanjang dan saling berimpitan di atas sofa, tinggi gue sekitar 165 dan rada kurus, jadi keliatan kecil di depan ni janda bahenol.

Bunda Lia langsung mejemin mata begitu ngeliat gue nuntun konti gue di depan selangkanganya, dia pasti tau kejadian selanjutnya. Rahimnya sebentar lagi diisi kejantanan laki2, berondong yg jauh di bawah umurnya.

Setan disekeliling kita pun mungkin ngiri ngeliatnya, pelan2 penis gue masuk di daleman dia, vagina yg tebal dan menantang. Terus dan terus masuk, sampe ke pangkal batang, bukan cuma meringis tapi muka mbak Liapun pucet pasi. Dua lengan gue dicengkrem kuat.
Uhhh... Nikmatnya bukan kepalang, kerasa sempit, keset dan basah. Jauh lebih enak daripada pake lotion yg biasa gue kerjain kalo lagi masturbasi.

Apalai ngeliat vaginanya yg lagi nelen batang gue. Rasanya gak ada yg lebih indah di dunia selain pemandangan itu.
" Hhh...Langhh..hh.." Desis bunda Lia waktu gue tarik ulur penis gue pelan.

Badan kita sama2 tegang, kaku, cuma selangkangan kita aja yg lentur begerak. Ini pertama kalinya gue ngehajar STW, ternyata jauh lebih panas sensasinya.
Sekarang dia bener2 ngelepas pertahanan dan gengsinya, mulutnya kadang melongo dan ngerintih panjang pendek tiap kali gue nyodok, sekali2 kayak orang nangis tuh suaranya.
Sementara gue ude makin kebakar, genjotan gue mulai kenceng dan ngumbar tenaga.
Bibir kita gak berenti ketemu, malah kadang bunda Lia yg gak sabaran nyium bibir gue, dikulum sambil ngedengus, napasnya kerasa berat dan anget di idung gue.
5 menit bejalan, kita bener2 lupa diri, saling ngeraba sana sini, kayak dikejer waktu selangkangan kita terus ngegesek sejadi2nya.

Akhirnya gue gak nahan lagi bro, mata gue sampe mejem waktu ngehentak selangkangan gue ditengah2 paha Bunda Lia yang ngangkang, kejem banget sampe bunda Lia merengek di bawah gue. Kayak banteng gue nyecer, itu badan stw keguncang2, detik2 kelimaks, suara desahan kita saut2an.


Mungkin Bunda Lia nyampe duluan pas mewek berapa detik sebelum gue nyampe. Nyawa gue kayak ketarik waktu sperma gue begerak naek, panas dan siap meledak.
"Ahhhhh...buuunnn..bundaaaa..." Jerit gue waktu itu mani gue nyemprot pertama kali.
"Serrr..serrrrr...serrrr...."
Tapi karena ketakutan bikin dia bunting gue buru2 narik penis gue keluar dan lanjut nyiram ke mana2.

Padahal tadi sempet dua kali nyemprot di dalem tapi pas diluaran masih banyak aja yang keluar. Bulu2 di atas vagina,puser,dan lipetan perutnya rata2 kena tetesanya.
Suasana mendadak sepi, cuma dada kita masing2 yang masih beguncang, tatapan mata kita ketemu, gue tau tiba2 aja rasa nyesel itu ngalir dipikiran masing2.

Bunda Lia pulang dengan wajah kusam,kata2 gue tadi gak cukup nenangin dia, langit makin gelap waktu gue nurunin dia di depan Stasiun Bogor, mungkin kita sama2 nyesel Bun, tapi jujur aja gue bahagia banget tadi .by: www.sumkirno.com - Blue Film - Bokep Barat - Bokep Indo - Cerita - Film Semi - Movie
0

Teman SekelasKu Yang Hot




SUMKIRNO - Saat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang membosankan karena belum kenal temanteman. Tetapi, dengan jarak satu baris, ada mahasiswi duduk tibatiba, dia terlambat sekitar 10 menit. Kemudian agak kulirik hatihati bagaimana rupanya.

Memang sih tidak terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi pikiranpikiran kotor. Bajunya abuabu dengan lengan biru dan agak ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A ukurannya.

Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu. Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (nisa kenal dengan cewek itu), tibatiba dia menghampiri kumpulanku dan temantemanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan nisa bertanya untuk berkenalan.

Eh, elo namanya siapa..? katanya.

Dalam hatiku, Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!

Lalu kubilang, Aldi.

Dia juga ngejawab, Diya Hartinisa, panggil aja Annisa.

Akhirnya kami berkenalan juga.

Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada pikiranpikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh dengan Annisa. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku mulai tegang. Malah, kadangkadang kalau sedang duduk di belakangnya, Annisa seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya nisa sexy, nisa mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku nisa sudah meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.

nisa membuatku bertambah nafsu, Annisa gampang sekali dirangkul atau dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya, apalagi Annisa malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata kaki. Begitu kulihat Annisa, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan tambahan belahan roknya nisa hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia duduk, kulihat pahanya nisa ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya, melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.

Lalu, inilah saatsaat nisa mengejutkan. Setelah midtest semester dua, salah seorang temanku ingin main ke rumahku nisa juga mengajak beberapa temanteman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Bagian nisa paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Annisa ikut juga ke rumahku. Hari itu Annisa memakai kemeja nisa agak memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Annisa ingin ke kamar mandi. Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya tidak jalan), kuantarkan Annisa ke kamar mandi bawah (sementara temanteman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba menstabilkan nafas nisa memburu melambangkan orang penasaran.

Sejenak aku berpikir, Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?

Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku purapura menjelaskan bagianbagian kamar mandiku kepada Annisa.

nisa, ini showernya, atiati lho nyemprotnya kencang, trus WCnya.. udah bisa kan..?

Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.

Emm.. nisa..! aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.

Annisa menjawab, Apaan sih..? Ada apa..?

Ehmm.. Gue.. boleh.., Annisa langsung memotong, Apaan sih..! Boleh apaan..?

Gue boleh cium elo, nggak..?

Batinku berkata, Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!

Annisa agak tertegun, Hah..! Ee.. emm..

Entah adrenalin dari mana nisa datang, tibatiba kupegang pinggang kanannya sambil menarik Annisa ke pelukanku. Annisa terlihat tidak berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir seksinya itu.

Awalnya bibir Annisa hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun setelah agak lama, Annisa mulai memejamkan matanya dan langsung melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah jilatan di ujung bibirku. Sesekali Annisa juga mengulum lidahku dan agak digigit.

Aku mendengar desahan Annisa, Ehmm.. eehh.. mm.. mungkin karena menikmati kulumannya.

Lalu Annisa nisa mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas, Annisa melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli nisa kurasakan, tetapi justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya nisa bulat sexy.

<<< SUMKIRNO >>>

Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BHnya. Kulempar BHnya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Annisa.

Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..! Annisa terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.

Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Annisa kubasahi dengan ludah dan kujilati kembali. Annisa juga sesekali menjambak rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku nisa sudah berdiri tegang dan agak berurat. Annisa tidak mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan. Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Annisa, aku merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan selangkangan.

Eghh.. nisa.. ehhgghh..! aku juga mendesah karena enaknya hisapan Annisa.

Sesekali Annisa juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati pinggirnya. Akhirnya, kuajak Annisa untuk melakukan persenggamaan.

Ehh.. nisa.. gue masukkin yahh.. hh..! sambil nafasku naikturun.

Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, Eughh.. ehh.. Annisa langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Annisa duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.

Wajahnya menghadap ke arahku. Annisa sendiri nisa mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.

Esshhghh.. emmhh..! Annisa mendesah namun seperti tertahan.

Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Annisa menusukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya tertekan.

Batinku berkata, Yess.. Annisa masih perawan.

Annisa mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.

Kugonisakan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Annisa sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Gonisaan Annisa semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku. Karena aku takut tutup WCnya jebol, kuangkat Annisa dengan batang kejantananku masih menancap, dan kutiduri Annisa di lantai. Untung lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya, kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Gonisaanku kini maju mundur.

Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..! Annisa kembali mendesah sambil memanggil namaku.

Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya senafsunafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Annisa ejakulasi duluan. Di sekujur batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.

Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Annisa, kukocok sedikit lagi dengan telapak kananku nisa sebagian dipenuhi oleh air mani Annisa. Kemudian ketika mau keluar, Annisa ikut memegangi batang kemaluanku.

Crot.. crot..! Spermaku membanjiri wajahnya.

Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya, hidung, alis dan ada nisa memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisasisa spermaku ditelan habis oleh Annisa.

Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..! Annisa mencoba berbicara sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari lelehan cairan panas itu.

Ghhahh.. ahh.. nisa.. capek nih gue..! Kuat juga elo..! aku mencoba bercanda.

Annisa membalas, Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!

Akhirnya Annisa membersihkan bekas sperma nisa membasahi sekitar wajahnya dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Annisa untuk bilang kalau kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar nisa lainnya tidak pada curiga, dan Annisa menjawab setuju dengan ciuman.

Setelah melakukan persetubuhan itu, Annisa ke atas duluan, purapura tidak ada apaapa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon. by: www.sumkirno.com  " Blue Film - Bookep Barat - Bokep Indo - Cerita Seks - Film Semi -Movie
0

Popular Posts

Cari Blog Ini

Pengikut

Popular Posts