Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Teman SekelasKu Yang Hot




SUMKIRNO - Saat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang membosankan karena belum kenal temanteman. Tetapi, dengan jarak satu baris, ada mahasiswi duduk tibatiba, dia terlambat sekitar 10 menit. Kemudian agak kulirik hatihati bagaimana rupanya.

Memang sih tidak terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi pikiranpikiran kotor. Bajunya abuabu dengan lengan biru dan agak ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A ukurannya.

Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu. Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (nisa kenal dengan cewek itu), tibatiba dia menghampiri kumpulanku dan temantemanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan nisa bertanya untuk berkenalan.

Eh, elo namanya siapa..? katanya.

Dalam hatiku, Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!

Lalu kubilang, Aldi.

Dia juga ngejawab, Diya Hartinisa, panggil aja Annisa.

Akhirnya kami berkenalan juga.

Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada pikiranpikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh dengan Annisa. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku mulai tegang. Malah, kadangkadang kalau sedang duduk di belakangnya, Annisa seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya nisa sexy, nisa mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku nisa sudah meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.

nisa membuatku bertambah nafsu, Annisa gampang sekali dirangkul atau dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya, apalagi Annisa malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata kaki. Begitu kulihat Annisa, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan tambahan belahan roknya nisa hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia duduk, kulihat pahanya nisa ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya, melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.

Lalu, inilah saatsaat nisa mengejutkan. Setelah midtest semester dua, salah seorang temanku ingin main ke rumahku nisa juga mengajak beberapa temanteman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Bagian nisa paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Annisa ikut juga ke rumahku. Hari itu Annisa memakai kemeja nisa agak memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Annisa ingin ke kamar mandi. Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya tidak jalan), kuantarkan Annisa ke kamar mandi bawah (sementara temanteman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba menstabilkan nafas nisa memburu melambangkan orang penasaran.

Sejenak aku berpikir, Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?

Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku purapura menjelaskan bagianbagian kamar mandiku kepada Annisa.

nisa, ini showernya, atiati lho nyemprotnya kencang, trus WCnya.. udah bisa kan..?

Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.

Emm.. nisa..! aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.

Annisa menjawab, Apaan sih..? Ada apa..?

Ehmm.. Gue.. boleh.., Annisa langsung memotong, Apaan sih..! Boleh apaan..?

Gue boleh cium elo, nggak..?

Batinku berkata, Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!

Annisa agak tertegun, Hah..! Ee.. emm..

Entah adrenalin dari mana nisa datang, tibatiba kupegang pinggang kanannya sambil menarik Annisa ke pelukanku. Annisa terlihat tidak berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir seksinya itu.

Awalnya bibir Annisa hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun setelah agak lama, Annisa mulai memejamkan matanya dan langsung melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah jilatan di ujung bibirku. Sesekali Annisa juga mengulum lidahku dan agak digigit.

Aku mendengar desahan Annisa, Ehmm.. eehh.. mm.. mungkin karena menikmati kulumannya.

Lalu Annisa nisa mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas, Annisa melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli nisa kurasakan, tetapi justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya nisa bulat sexy.

<<< SUMKIRNO >>>

Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BHnya. Kulempar BHnya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Annisa.

Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..! Annisa terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.

Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Annisa kubasahi dengan ludah dan kujilati kembali. Annisa juga sesekali menjambak rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku nisa sudah berdiri tegang dan agak berurat. Annisa tidak mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan. Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Annisa, aku merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan selangkangan.

Eghh.. nisa.. ehhgghh..! aku juga mendesah karena enaknya hisapan Annisa.

Sesekali Annisa juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati pinggirnya. Akhirnya, kuajak Annisa untuk melakukan persenggamaan.

Ehh.. nisa.. gue masukkin yahh.. hh..! sambil nafasku naikturun.

Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, Eughh.. ehh.. Annisa langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Annisa duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.

Wajahnya menghadap ke arahku. Annisa sendiri nisa mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.

Esshhghh.. emmhh..! Annisa mendesah namun seperti tertahan.

Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Annisa menusukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya tertekan.

Batinku berkata, Yess.. Annisa masih perawan.

Annisa mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.

Kugonisakan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Annisa sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Gonisaan Annisa semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku. Karena aku takut tutup WCnya jebol, kuangkat Annisa dengan batang kejantananku masih menancap, dan kutiduri Annisa di lantai. Untung lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya, kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Gonisaanku kini maju mundur.

Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..! Annisa kembali mendesah sambil memanggil namaku.

Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya senafsunafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Annisa ejakulasi duluan. Di sekujur batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.

Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Annisa, kukocok sedikit lagi dengan telapak kananku nisa sebagian dipenuhi oleh air mani Annisa. Kemudian ketika mau keluar, Annisa ikut memegangi batang kemaluanku.

Crot.. crot..! Spermaku membanjiri wajahnya.

Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya, hidung, alis dan ada nisa memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisasisa spermaku ditelan habis oleh Annisa.

Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..! Annisa mencoba berbicara sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari lelehan cairan panas itu.

Ghhahh.. ahh.. nisa.. capek nih gue..! Kuat juga elo..! aku mencoba bercanda.

Annisa membalas, Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!

Akhirnya Annisa membersihkan bekas sperma nisa membasahi sekitar wajahnya dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Annisa untuk bilang kalau kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar nisa lainnya tidak pada curiga, dan Annisa menjawab setuju dengan ciuman.

Setelah melakukan persetubuhan itu, Annisa ke atas duluan, purapura tidak ada apaapa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon. by: www.sumkirno.com  " Blue Film - Bookep Barat - Bokep Indo - Cerita Seks - Film Semi -Movie
0

Dewasa Kusemprotkan Vagina Tante


SUMKIRNO - ya dia orangnya cantik body nya yampun muga seksi bak pemain sinetron namanya Tante Peni, tinggi badannya kira kira 169 cm ukuran branya 34 B, aku seringa maen kerumahnya karena permintaan tante Peni, suaminya sering tinggal di luar kota karena bisnisnya, tante Peni mempunyai 2 orang anak perempuan kesemuanya juga cantik kayak ibunya.

Fatimah dan Novita. Fatimah sudah kuliah di semester 4 dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Novita mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36.

Setiap aku berada di rumah tante Fatimah aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai bajubaju transparan kalau di rumah. Tapi kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Peni di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk seminggu.

Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Peni. Setelah perjalanan 30 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah.

Met pagi semua aku ucapkan sapaan seperti biasanya.

Pagi, Mas Samo. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya? Novita membalas sapaanku.

Iya nih kesiangan aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.

Tante Peni masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya.

Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Peni tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya.

Ternyata tante Peni sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosokgosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengeluselus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, Hmm, ohh, arhh.

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Peni ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya.

Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiranpikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Peni, membuatku tergilagila. Aku jadi membayangkan tante Peni berhubungan badan denganku.

Lho Ric, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho. Tibatiba suara tante Peni mengagetkan aku.

Kamu ini pagipagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya. Celetuk tante Peni sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Peni berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

Hmm.. geli ah Aku terbangun dan terkejut, karena tante Peni sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang kontol ku dari luar sarung.

Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun. Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat kontolku menegang 90%.

Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang. Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.

Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya kontol mu Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.

Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Samo tahu kok kalau tante yang seksi ini tadi pagi masturbasi di kamar mandi celetukku sekenanya.

Lho, jadi kamu.. Tante kaget dengan mimik setengah marah.

Iya, tadi Samo ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan? agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tibatiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya.

Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan kontolku di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini.. dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
Iya sayang, Samo sudah lama inginkan itu. celetukku sekenanya.

Ya sudah peganglah sayang? kata tanteku yang seksi itu.

Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir. tante Peni merengek perlahan.

Hmm..shh tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Peni. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab.

Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke selasela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh. tante mengagumi kontolku yang belum pernah dilihatnya.

Ya sudah dibuka saja tanteku sayang. pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.

Wah, rupanya tante punya kontol lain yang lebih gedhe. Gila tante Peni ini, padahal kontolku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat kontolku yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

Sayang.. ngapain berhenti? aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.

Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..? agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.

Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan kontolku yang mempunyai panjang 13 cm dengan diameter 4 cm.

Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama kontolku. Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.

Hmm, iya deh. Lalu tante mulai menjilat ujung kontol.

Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal kontol

Ahh.. enak sayang, terusin hh. aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Peni sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Peni.
<< SUMKIRNO >>
Akhirnya sambil menggigitgigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satusatunya itu. Tibatiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

Ayo sayang, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini. Sambil tangan tante mengusap vaginanya.

OK sayang aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.

Shh.. ohh tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.

Hh.. mm.. enak sayang, terus Ric.. yaa.. shh tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Peni. Ahh..Sayang..shh..sayang aku mau keluar. tante mengerang dengan keras.

Ahh.. erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.

Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

Hmm..kamu pintar sayang. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan? dengan manja tante memeluk tubuhku.

Ehh, gimana ya tante.. aku ngomgong sambil melirik ke kontol ku sendiri.

Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya tante sadar kalau kontol ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya kontol ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok kontol. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.

Ric, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya. tante heran karena belum ada tandatanda mau keluar sesuatu dari kontolku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Peni, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kirikanan, sampai akhirnya dipangkal paha.

Dengan tibatiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya.

Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesekgesekkan ujung kontolku ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. Perlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

Tante siap ya, aku mau masukin kontolku aku memberi peringatan ke tante.

Cepetan sayang, Fuck me sayang, ayo.. tante sudah gak tahan nih. tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan kontolku.

Dengan pelan aku dorong kontolku ke arah dalam vagina tante Peni, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh kontolku sekarang sudah tertancap di vaginanya.

Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

Sayang, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh tante berbicara sambil merasa keenakan.
Ahh.. shh mm, tanteku sayang ini cara Samo agar tante juga merasa enak Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa kontolku ke dalam vagina tante.

Ahh.. kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Peni ini masih kencang, pada saat aku menarik kontolku bibir vaginanya ikut tertarik.

Plok.. plok.. plokk suara benturan pahaku dengan paha tante Peni semakin menambah rangsangan.
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tibatiba tante mengerang keras Ahh.. sayang tante nyampai lagi

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan kontolku masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Peni, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di kontolku.

Sayang, aku mau keluar nih, di mana? aku bertanya ke tante.

Di dalam aja sayang, tante ingin merasakan sperma kamu sayang, dan tante juga mau lagi nih sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciumanciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

Arghh.. sayang aku nyampai.

Aku juga sayang.. ahh tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

Sayang, kamu hebat. puji tante Peni.

Sayang juga, vagina sayang rapet sekali aku balas memujinya.

sayang, kamu mau kan nemani tante selama om pergi pinta tante.

Mau dong sayang, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam? aku balik bertanya.

Gak apaapa sayang, tante ingin punya anak dari kamu sayang. Jangan kuatir ya sayang Tante membalas sambil tangannya mengelus kontolku.

Ih.. sayang nakal ya. sambil aku menggigit kecil payudaranya yang sangat menantang.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.

Kejadian ini terus kami lakukan dimana saja, bila ada waktu kosong. Hingga tante Peni mengandung benih yang telah aku keluarkan ke rahimnya, dan aku telah mencicipi perawan anaknya duaduanya, tapi akan kuceritakan lain kali.by: SUMKIRNO - Blue Film - Bokep Barat - Bokep Indo - Cerita Seks - Movie - Film Semi
0

Dibalik Selimut Tetangga


SUMKIRNO - Cerita ini dimulai ketika aku memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuaku dan mengontrak sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta. Kulakukan itu karena aku dan istriku ingin belajar mandiri, apalagi kini sudah hadir si kecil anggota keluarga baru kami.
0

Dihamili Sahabat

 "" SUMKIRNO""
“ Santoo … aku hamil !!!” Teriakku di telepon kepada sahabatku Santo yang sedang ada di rumah mertuanya di Jakarta.

0

Sahabat Istriku


SUMKIRNO -Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada dikota A, kota kelahiran istriku, kebetulan kami mempunyai rumah disana dan saat itu liburan anak sekolah.

0

Pengorbanan Wati


SUMKIRNO - Sepertinya aku harus mengubur dalam-dalam impianku untuk menjadi satu-satunya perempuan dengan gelar MBA di kampung ini. Sia-sia sudah semua jerih payah selama masa kuliah dulu. Semuanya bdrawal dari datangnya musim kemarau yang berkepanjangan tahun lalu.

0

Salah Sambung

SUMKIRNO - Untuk menyelesaikan tugas kuliah, aku harus meminjam buku dari teman. Tapi, sayang bukunya sedang dipinjam oleh teman ceweknya. Dia menyarankan untuk menelepon temannya, siapa tahu sudah selesai. Dia lalu memberi nomor telepon, kucatat dan langsung aku menelponnya.

0

Seks Dengan Istri Orang


SUMKIRNO - Cerita ini merupakan pengalaman pertamaku bercinta dengan wanita selain istri, Kejadian  itu sendiri terjadi kira-kira2 bulan yang lalu disuatu daerah di Jawa Timur, diawali dari adanya tugas kantor yang mengharuskan aku untuk melakukan suatu training untuk beberapa cabang di daerah. Saat itu menginap di hotel kota B dan kadang tidur dikantor/unit yang ada di desa

0

First Time


SUMKIRNO- Dengan baju kerjanya tante Dina terlihat sangat cantik dan seksi. Apabila ia sedang melepas blezernya, buah dadanya tampak padat, ukurannya sedang-sedang saja. Karena ia selalu memakai rok span mini, maka pantatnya terlihat padat dan kencang, karena tercetak dengan sangat jelas di rok spannya yang ketat. Sering kali ketika aku main ke kantornya. Pada waktu itu aku sedang duduk di sofa dan sedang membaca majalah. Aku tidak sengaja melirik ke arah betis tante Dina yang sangat mulus dan indah, tante Dina juga selalu memakai sepatu hak tinggi warna hitam yang seksi, sehingga menambah keindahan kaki dan betisnya.

Pernah suatu kali ketika aku sedang melirik betis indahnya tante Dina, tanpa kusadari ia mengetahuinya dan melihat ke arahku. Begitu aku tiba-tiba sadar dan melihat ke arahnya, aku malu sekali, jantungku berdegup kencang. Namun tante Dina justru tersenyum kepadaku, yang malah membuatku makin jadi salah tingkah. Tante Dina memang orangnya ramah dan baik hati, bahkan ia terkadang memberiku hadiah-hadiah kecil seperti mobil. Namun tetap saja apabila aku sedang diajak bicara olehnya, jantung ini berdebar-debar, entah kenapa. Peristiwa yang sangat dahsyat bermula pada saat aku mampir lagi di kantornya. Hari itu sekitar jam 10 pagi, dan aku sedang duduk-duduk sambil baca majalah, namun tiba-tiba tante Dina datang dengan pakaian kerjanya yang sexy seperti biasa.

"Eh, tante..?", sapaku.
"Cup.. kamu lagi ngapain.."tanyanya.
"Lagi baca majalah tante.."jawabku.
"Majalah apa ayo.. jangan-jangan kamu baca majalah porno ya?"tanyanya penasaran.
"Kalau ya.. emang kenapa tante.. nggak boleh ya.."jawabku.
"Nggak pa-pa koq.. itu berarti keponakan tante udah gede.. ya khan.."katanya.
"Ya.. tante punya Ucup udah gede lo.. kepalanya lucu kayak 'Helm NAZI'.."kataku mancing.
"Apanya yang gede.. anak manis.. tante nggak ngerti.."tanyanya lagi.
"Ini tante burung Ucup.. udah gede lo.."kataku sambil nunjuk ke arah selangkanganku.
"Ahh.. kamu nakal ya.. entar tante bilangin ama om kamu.. baru nyaho' kamu.."katanya.
Lalu, tante Dina kembali bekerja.

Di dalam ruang kerja kantor, tante Dina bekerja menggunakan komputernya, sedangkan aku sendiri bosan baca majalah lalu bermain game dengan komputerku, tepat di sebelah meja tante Dina. Saat itu kulihat tante Dina sedang sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kesempatan ini kugunakan sebaik-baiknya. Aku menikmati kecantikan tanteku sepuasku. Keperhatikan wajah tante Dina yang begitu cantik, lalu buah dadanya yang padat. Karena tante Dina menggunakan rok span yang mini, maka ketika ia duduk dengan menumpangkan kakinya, pahanya yang putih mulus itu langsung terlihat, juga betisnya yang indah, kutatap habis-habisan.

Namun tiba-tiba tante Dina menatapku sambil tersenyum menggoda," Lagi ngeliatin apa kamu, Ucup..?"katanya.
Dag.. dig.. dug.. derr! Astaga.., aku benar-benar kaget, jantungku serasa copot, aku sangat panik, dan..
"Eh.., anu.., ehm.., nggak kok tante..", jawabku terbata-bata.
"Kamu nggak usah bohong sayang.. Nggak apa-apa kok, kalau kamu suka ama tante..", katanya sambil tersenyum nakal.
Namun tante Dina malah berdiri ke arah pintu dan menguncinya, lalu menghampiriku dan berdiri
tepat di depanku, bau harum parfumnya terasa olehku. Tentu saja aku jadi makin berdebar-debar nggak karuan.
Lalu..
"Cup.., menurut Ucup, tante cantik dan sexy nggak sih..?", tanyanya menggoda.
"Eh.. engg.. iya.. tante cantik dan sexy.. malah jauh lebih cantik dari Tamara Maen Sky" jawabku becanda sambil menunduk.
"Ahh.. yang bener Cup.. ee.. kalau begitu Ucup mau dong kalau tante Dina minta tolong?" katanya sambil mengecup pipiku.
Wow.. Perasaanku saat itu benar-benar campur-aduk, aku merasakan kelembutan bibirnya, namun bercampur dengan grogi dan bingung. Aku hanya bisa mengangguk saja. Lalu, tante Dina memegang tanganku dan menariknya dengan lembut, sehingga aku bangun dari dudukku.
"Cup.., ayo sini ikut tante.., tante mau ajarin Ucup sesuatu..", katanya sambil menuntunku berjalan ke arah meja kerja yang koCupg. Aku mengikuti semua kemauan tanteku yang genit ini.
"Nah anak manis.., sekarang kamu berdiri di sini dan diam dulu yah.." katanya. Aku berdiri dengan bersandar pada meja. Lalu tiba-tiba tante Dina mengecup bibirku dengan lembut, aku benar-benar kaget, tapi rasanya benar-benar nikmat, bibir tante Dina terasa lembut dan basah.

Aku hanya bisa diam saja sambil memejamkan mata, dan terus-terang saat itu otongku langsung naik. Kemudian, tiba-tiba tangan tante Dina, bergerak menuju celana, kayaknya dia mau melepasnya.
"Tante, aduhh.. Ucup mau diapain..?", tanyaku gugup.
"Udah dong ahh.. kamu nurut aja ya.. percaya deh sama tante, pasti nanti kamu suka..", bujuknya sambil kembali tersenyum nakal.
Lalu, tante Dina mulai berlutut dihadapanku, dan mulai melepas resletingku, dan..
"Tante.. jangan tante.. jangan.. ohh..", aku sungguh terasa panas-Cupgin, namun tante Dina tidak memperdulikanku ia malah sibuk sendiri, nampaknya nafsu birahinya sudah tak bisa lagi dikendalikan. Setelah resletingnya terbuka, lalu tante Dina melorotkannya, karena aku tidak pernah memakai CD(habis gerah dan agak gatel-gatel gimana gicu..), langsung saja otongku terjulai keluar.

"Wow.. besar juga punya kamu Cup.."katanya sambil menatap otongku dengan tatapan buasnya. "Ohh.. tante jangann..", ujarku lirih dengan gemetar, lututku terasa lemas. Tante Dina yang tahu akan keadaanku lalu memegang pinggangku, dan menyuruhku naik, duduk di meja.
Lalu, tante Dina memegang otongku yang sudah tegang itu. Dan.. ahh.. genggaman jari-jari lentik tante Dina terasa sangat lembut di otongku.. Tiba-tiba dengan lembut tante Dina, menjilat kepala otongku perlahan,
"Ahh.. taanntee.. " jeritku lirih. Rasanya sulit dilukiskan, pokoknya bergetar seluruh tubuhku, saat lidah tante Dina yang lembut menyapu permukaan kepala otongku. Lalu, tanpa sungkan-sungkan lagi tante Dina langsung mengulum otongku, benar-benar gila rasanya..

"Ahh.. tantee.. aah.. ohh.." aku mengerang-ngerang, tak karuan. Tante Dina terus mengulum-ngulum, sambil mengocok-ngocok, dan menyedot-nyedot otongku. Luar biasa rasanya.. tak terbayangkan nikmatnya.. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan, yang akan keluar dari tubuhku. Aku makin menggila mengerang-ngerang, tante Dina yang rupanya tahu waktunya telah tiba, langsung menyedot otongku kuat-kuat dan..
"Ahh.. taann.. aargghh..", aku menjerit kencang, dan air maniku muncrat menyembur keluar, untuk pertama kali aku merasakan puncak kenikmatan yang tak terbayangkan bersama tanteku. Lalu, tubuhku terkulai lemas.. tergeletak di atas meja.. Namun air maniku yang tadi menyembur keluar di dalam mulut tante Dina malah disedot, dihisap, dan ditelannya.

Nampaknya tante Dina rakus sekali dengan air maniku, bahkan karena saking banyaknya ada air maniku yang meleleh keluar dari mulutnya, dan melumuri sekitar bibirnya, dan dengan menggunakan lidahnya tante Dina menyapunya semua lalu menelannya.
"Wow.. punyamu enak sayang.. gimana rasanya.. enak khan.. "katanya sambil terus menjilati otongku.
"Aduhh.. Ucup rasanya seperti orang mabuk.. tapi enak tante.."kataku.
Lalu, dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan ke sofa panjang di ruangan itu, dan aku langsung rebah disitu dan terlelap..
Sekitar 1/2 jam aku tertidur, ketika terbangun aku merasakan suatu perasaan yang senang. Aku melihat tante Dina masih bekerja. Aku melihat dia melepas sepatunya.. ohh.. sungguh indah kakinya. Setelah itu nampaknya perkerjaannya sudah hampir selesai.

Setelah pekerjaan tante selesai, dan mematikan komputernya, ia menghampiriku.
"Cup.. badan tante pegel nih, pijitin dong.. sayang..?", pintanya.
"Iya tante.." jawabku.
Tante Dina langsung terlungkup di sofa panjang yang satunya. Aku tertegun dengan bentuk tubuh tanteku, ohh begitu lansing dan bokongnya yang besar ohh.. serta kakinya yang sexy.. ohh.. "Ayo.., kok malah bengong sih..", seru tante.
"Eee.. iya tante.."kataku pelan.
Lalu, kuusap pelan-pelan pundak tante, lalu perlahan kupijit-pijit, lalu turun pelan-pelan ke punggungnya. Ketika hampir mencapai ke dua buah pantatnya yang montok itu, aku agak ragu.
"Ayo Cup, jangan berhenti dong.." serunya.
Dengan agak berdebar kutempelkan kedua telapak tanganku ke buah pantatnya yang padat berisi itu. Wah, sungguh empuk sekali lalu kuremas-remas perlahan,
"Hmm.. nah gitu dong.. pintar kamu Cup.." kata tante Dina sambil merasakan nikmat.
Setelah agak lama bermain di pantat tante Dina, tanganku kembali merayap menyelusuri paha bagian belakang dan betisnya. Wah.. betis indah tante Dina yang biasanya hanya bisa kulihat dan kubayangkan saja, sekarang kuusap-usap dan kuremas-remas dengan lembut, sungguh halus sekali rasanya, mulus dan lembut.. Kemudian tante Dina bangun dari terlungkupnya, dan kini duduk bersandar di sofa.

"Cup, tolong lepas sepatu tante..!" perintahnya.
Akupun melakukan perintahnya, melepas sepatunya dengan hati-hati. Setelah dilepas aku lihat ujung kakinyapun sangat halus dan mulus.
"Cup.., kamu mau kan.. jilatin kaki tante..!"perintahnya.
Aku ragu tapi berikutnya tanpa ragu lagi aku ikuti perintahnya. Aku jilat telapak kaki tante Dina yang mulus itu, lalu kujilatin pula tumitnya yang berwarna merah jambu itu. Baunya khas tapi nggak bau kayak kakiku.
"Ehmm.. kamu nakal ya..", tante Dina kegelian. Lalu,
"Terus naik ke atas dong sayang.." pintanya lirih.
Dari telapak kaki dan tumitnya, jilatanku naik ke atas. Kujilati betis mulus dan indah tante Dina, benar-benar lembut sekali terasa di lidahku. Jilatanku terus naik ke atas, kusingkapkan setengah rok spannya ke atas, lalu kujilati paha tante Dina, membuatnya terus menerus merintih kegelian tapi pasti nikmat dong.

"Cup.., tolong bukain CD tante yah..", lalu tante Dina menyingkapkan seluruh roknya ke atas,
sehingga CD-nya yang berwarna putih nampak sangat jelas di depanku. Uhuii..!, ternyata di bagian tengah CD-nya telah basah, rupanya tante Dina sudah sangat terangsang. Tanpa membuka roknya yang disingkapkan ke atas, dengan hati-hati kuturunkan CD tante Dina. Wah.. luar biasa.. baru kali ini aku menyaksikan yang secara langsung memek seorang wanita. Memek tante Dina sangat indah, bulu-bulunya sangat lebat, bentuk bukit memeknya cembung, di tengahnya terdapat garis bibir memek yang berwarna kemeraha-merahan, sangat merangsang birahi, apalagi di pinggirannya telah nampak basah oleh cairan birahinya.

"Ayo Cup, jilatin memek tante ya.. cepet ya.. udah nggak tahan nih.." serunya.
Lalu, aku dekati memek tante Dina, bau harum birahinya sangat keras tercium, mula-mula dengan perlahan aku mulai menjilati pinggiran memeknya.
"Ssshh.. aahh.. ya gitu Cup.. aahh.. teruss.. ohh..", tante Dina mendesis-desis kegelian dan nikmat. Tante Dina duduk sambil membuka kakinya lebar-lebar selonjoran di sofa, sementara aku menjilati memeknya yang udah banjir bandang. Aku terus menjilati pinggiran memek tante Dina yang telah basah itu, rasanya asin-asin enak.. Setelah pinggiran memeknya, aku mulai berpindah menjilati tengahnya, kulihat di bibir memek tante Dina yang masih rapat itu terdapat cairan basah, lalu aku jilat bagian tengah yang memanjang di memeknya, lalu..
"Ssstthh.. teruss.. ohh.."tante Dina mendesis panjang.
Lalu kujilati bagian dalam memeknya, kukorek dengan lidah seluruh CupCup bagian dalam memeknya untuk mendapatkan cairan memeknya, sehingga membuatnya menggelinjang-gelinjang,..
"Cup.. aahh.. aahh.."tante Dina terus mengerang-ngerang.

Lalu, dengan jariku aku renggangkan kedua bibir memek tante Dina, lalu sedikit diangkat ke atas, maka tampaklah ujung clitnya yang mungil yang berwarna pink. Lalu dengan sekali jilatan panjang, aku jilat ***** itu, dan..
"Aaauuhh.." tante Dina langsung menjerit, ia tersentak kaget.
"Cup.. kamu pintar sayang.. hhmm..?", tanyanya sambil tetap mengerang.
"Gimana tante.. rasanya..", sahutku.
"Enak sayang.. ayo teruss..", katanya sambil mengerang lagi.
Aku terus menjilati clitnya, kugosok dengan lidahku, membuatnya semakin gila, menjerit-jerit dan
menggelinjang-gelinjang, dan..
"Aaahh.. ahh.. aarghh.. eehhmm..", erangnya lagi.
Lalu kusedot ***** tante Dina dengan satu sedotan panjang, tiba-tiba tante Dina langsung menjerit keras, "Aaakkhh.. tantee.. keluarr.. ohh..", badannya mengejang, bergetar, kedua pahanya dirapatkannya ke kepalaku, dan tangannya meremas sofa itu dengan kuatnya.

Tante Dina sedang merasakan puncak kenikmatan orgasme yang luar biasa, lendir hangat orgasmenya keluar dari dalam memeknya, dan aku sedot lagi memeknya kuat-kuat, membuat erangannya semakin panjang, "Aakhh.. Cup.. eemmhh.. eemhh..", dan akhirnya tante Dina tergeletak lemas.
Setelah terbaring lemas di sofa beberapa saat, tante Dina kembali bangkit, lalu menarikku ke sofa, dan menciumku, melumat bibirku, lalu lidahnya didesakannya masuk ke mulutku. Aku yang belum berpengalaman menerima saja. Lidah tante Dina bermain di dalam mulutku, mengait-ngait lidahku, Wah.. rasanya.. geli, nikmat, dan basah..

Kemudian tante Dina melepaskan lumatannya, lalu melepaskan kaosku, sehingga kini aku telanjang bulat. Kemudian tante Dina mendorong badanku agar aku terlentang di sofa. Ia menatap otongku yang sudah mulai bangun kembali, digenggamnya batang otongku, yang langsung saja membuatnya makin mengeras, lalu di kocok-kocoknya. Mulanya perlahan, lama-kelaman makin cepat, Wah.. rasanya benar-benar aduhai.. Lalu, tante Dina melumat batang dan kepala otongku, Waah.. rasanya semakin Luar biasa. Lalu, tante melepaskan lumatannya di otongku, lalu tante Dina mulai melepaskan pakaian kerjanya. Aku bangkit dan terduduk di sofa. Melihat pemandangan itu, aku jadi deg-degan, namun kali ini sedikit bercampur nafsu. Dan akhirnya tante Dina membuka seluruh pakaiannya, termasuk BH dan CD-nya, sehingga ia kini benar-benar telanjang bulat.

Wah, Luar biasa indahnya tubuh tante Dina yang putih mulus, sangat montok dan seksi. Aku sekarang benar-benar super terangsang. "Gimana Cup, kamu suka tubuh tante.. kan.. pasti kamu belum pernah melihat langsung cewek telanjang, iya kan..?", tanyanya sambil menggodaku.
Aku hanya tersipu sambil menganggukan kepala dengan jempol tanganku kukenyot, tante Dina tertawa cekikikan..
Lalu tante Dina meraih tanganku, dan diletakan diatas buah dadanya yang montok. Wuih.. walau
aku deg-degan, tapi rasanya sangat empuk dan lembut sekali..
"Nah Cup, kamu remas tetek tante yach..", katanya.
Tanpa disuruh dua kali aku langsung meremasnya dengan perlahan.
"Hmm..", tante Dina mendesah.
Aku terus meremas-remas dengan nikmat, dan..
"Hmm.. stthh.. aahh.. teruss.. Cup.. ohh..", tante Dina terus mendesah.
Namun rupanya, tegangan birahi tante Dina sudah sangat super tinggi. Tiba-tiba aku langsung diterjangnya, dipeluk, serta dilumatnya bibirku, dengan penuh nafsu. Benar-benar baru kurasakan yang namanya cumbuan dan pelukan wanita, apalagi kita sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, jantung ini berdetak kencang. Tangan tante Dina merayap mencari otongku, lalu digenggamnya batang otongku.

Lalu, sambil dalam posisi mendudukiku, tante Dina mengarahkan ujung kepala otongku ke memeknya.
"Tante, Ucup mau diapain, ja.. jangan dimasukin tante.. Ucup.. masih perjaka..", kataku terbata-bata.
"Nggak pa-pa sayang.. sekarang kamu nurut tante aja ya..", kata tante Dina sambil tersenyum menggodaku.
Lalu, tante Dina langsung menekan memeknya ke kepala otongku, dan..
"Engghh..", aku mengerang merasakan seretnya otongku masuk ke memek tante Dina. "Stthh.. ohh..", tante Dina pun rupanya merasakan gesekan otongku dengan memeknya. Walaupun telah basah oleh lendir memeknya, namun memek tante Dina memang masih sempit, jadi cuma sepertiga batang otongku yang baru berhasil masuk. Namun tante Dina terus memaksakan batang otongku masuk, sampai aku sendiri takut kalau batang otongku lecet.
"Stthh.. aahh..", akhirnya seluruh batang otongku masuk ke dalam memek tante Dina. Sungguh luar biasa, nikmat sekali rasanya batang otongku di dalam memek tante Dina, hangat, lembab, basah, dan serasa dihisap masuk ke dalam lubang sempit yang berulir.

Kemudian tante Dina mulai menaik-nurunkan bokong dan pinggulnya, tante Dina mengocok otongku di dalam memeknya.
"Aaahh.. enaakk.. oii.. aahh..", aku benar-benar merasakan nikmatnya yang pertama kali dengan tanteku sendiri. Tante Dina pun tak kalah menjerit-jeritnya, "Sstthh.. Aaahh.. Cup.. aahh.."erangnya.
Tante Dina tampaknya seperti sudah lupa daratan, dia terus menggoyangkan bokong dan pinggulnya keatas-kebawah, maju-mundur, kiri-kanan, meliuk-liukan pinggulnya, sambil mengerang-ngerang dan menjerit-jerit.
"Tann.. jangan keras-keras.. otong Ucup sakit.."kataku.
"Sakit.. ya deh.. maafin tante sayang.. "katanya sambil terus bergoyang lembut.
Sampai setelah sekitar 15 menit, tiba-tiba tante Dina menjerit kencang, badannya mengejang, ditekannya memeknya ke otongku kuat-kuat, sambil mencengkram erat ke sofa.
"Cup.. Aaakkhh.."erangnya.
Aku merasakan memek tante Dina dengan sangat kuat menjepit dan mengempot otongku, rasanya memang sangat Luar biasa nikmat, dari dalam memeknnya kurasakan keluar banyak sekali cairan. Karena merasakan jepitan dan empotan yang sangat dahsyat, tiba-tiba aku merasakan kembali sesuatu yang sangat tak tertahankan, dan akhirnya..
"Taann.. aakhh..", aku menjerit dengan kerasnya.
Aku merasakan nikmatnya rasa yang luar biasa, yang tidak bisa kulukiskan, air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memek tante Dina. Tante Dina tersenyum nakal kepadaku, lalu memelukku, aku merasa sangat lemas.. Dan
akhirnya kami berdua tertidur sambil berpelukan telanjang di sofa itu.. Ketika aku bangun, tante Dina tersenyum kepadaku, dan berkata..
"Cup.., tenyata kamu hebat, tante nggak nyangka keponakan tante udah pandai.."katanya sambil mengecup bibirku. Aku hanya tersipu saja.
"Lain kali kamu mau kan, tante ajarin lagi..?"katanya.
"Iya tante.. Ucup nurut tante aja..", jawabku sambil menggangguk.
"Nah, gitu dong. Itu baru ponakan tante tersayang.."katanya lagi.

Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan seks. Bahkan pernah dengan alasan mengajakku jalan-jalan, tante Dina pernah mengajakku ke apartement miliknya dan kami pun melalukannya lagi, pokoknya Luar biasa deh. Hal-hal seperti itu terus kami lakukan sampai akhirnya aku menikah dan pindah ke Inggris. Tepatnya di kota Liverpool karena aku menjadi pemain inti dari klub Liverpool. Begitulah kisah pengalaman seks-ku yang pertama kali dahulu, yang tak dapat kulupakan. by: www.sumkirno.com - Blue Film - Bokep Barat - Bokep Indo - Cerita Seks - Film Semi - Movie

TAMAT...
0

Malang Indah

SUMKIRNO- Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan super gemuk mengamatiku, lalu menegurku.
"Cari siapa mas..?" tanyanya.
"Apa betul ini rumah Oom Ramli..?" tanyaku balik.
"Ya betul.. Mas ini siapa?" tanyanya lagi.
"Saya keponakan Oom Ramli dari Jember."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Mas pasti Den Benny, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin."

Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 30 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.

Dia tersenyum begitu melihatku, "Kok terlambat Ben..? Tante pikir kamu nggak jadi datang.." ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.
"Iya Tante.. ma'afin Benny ya.." jawabku pendek.
"Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Hendra.., antarkan Benny ke kamarnya..!" perintah Tante Juliet pada Hendra.

Lalu aku mengikuti Pak Hendra menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di halamanbelakang yang luas. Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang. Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok Marlboro di tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.

"Oh Tante.." sapaku kikuk.
Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang bidang dan berbulu.
"Kamu sudah mandi ya, Ben..? Tampan sekali kamu.." kata tanteku memuji.
Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung mengelu-elus bagian penisku, tentu saja aku jadi salah tingkah.

"Saya mau ke kamar dulu Tante.." kataku takut kalau nanti dilihat Oom Ramli.
"Tunggu sebentar Ben, Tante ingin minta tolong sama kamu.. Benny mau khan mijitin kaki Tante.., soalnya keseleo waktu main bola tadi.." kata Tante Juliet sambil merengek.
Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar kemaluannya seperti habis dicukur.

Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Juliet yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante yang mulus dan padat itu.
"Tolong diurut ya Ben.., tapi pelan-pelan aja ya.." ucapnya lembut.
Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung. Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya, sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.

Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Ramli. Sudah tiga Hari Oom Ramli belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante sedang nonton TV sendirian.

Tiba-tiba wanita itu memekik, "Achh.., aduh.., tolong Ben..!" keluhnya sambil memegangi keningnya.
"Kenapa Tante..?" tanyaku kaget dan khawatir.
"Kepala Tante agak pusing.., aduh.. tolong bawa Tante ke kamar Ben..!" keluh tante sambil memegangi kepalanya.
Aku jadi kebingungan dan serba salah.
"Saya panggil Pak Hendra dulu ya Tante..?" usulku sambil ingin pergi.
Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, "Nggak usah Ben, lagi pula Pak Hendra Tante suruh ke Palangkaraya ngawal barang."

Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara lembut itu melarangku.
"Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante.. Ben..!"
Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti perkataan Oom dan Tanteku.


Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan kini hanya tinggal CD saja. Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat penisku mulai tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan. Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan penisku semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.

Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.
"Jangan Tante.., jangan, saya takut.." pintaku sambil mau memakai pakaianku kembali.
"Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu mau memperkosa Tante.." ancam tanteku.
Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam penisku, aku langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku mendesah perlahan.

Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga penisku dihisap dan dikemutnya. Nikmat sekali, kurenggangkan kedua pahanya sambil kujilat-jilat kemaluannya yang mulai basah itu.
"Ahh.., ayo terus jilat Ben..! Jangan berhenti..!" erang tanteku keenakan.
Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang kewanitaannya. Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante jongkok sambil mengulum penisku yang sudah sangat tegang.

Ternyata tanteku pandai sekali menjilat penis, tidak sampai 30 menit aku sudah keluar.
"Ahh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchh..!" desahku sambil kudorong keluar masuk di mulutnya penisku ini.
"Tante.. Benny mau keluar nih.., achh.. yeahh..!" erangku sambil kumuncratkan maniku di mulutnya.
Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada sisanya.

Setelah beberapa saat penisku mulai bangun kembali. Setelah tegang dibimbingnya penisku masuk ke liang kewanitaannya. Kali ini aku di atas dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service oleh Oom Ramli. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk semuanya ke dalam.
"Ayo Ben..! Masukin dong Sayang..!" pinta tanteku sambil menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.
Akhirnya kudorong keluar masuk penisku dengan gerakan yang cepat, sehingga semakin keras erangan tanteku.

Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, "Aahh..! Tante.., Benny udah mau keluar.., ahh..!" kataku.
"Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., ***** me Ben..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!"
Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang memijat-mijat penisku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante bergetar hebat dan memelukku sambil kemaluannya mengeluarkan cairan yang menyemprot penisku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan spermaku di dalam vaginanya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya kami berdua terkapar lemas.

"Hebat bener kamu Ben.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante merasakan kenikmatan yang luar biasa..!" tuturnya dengan nafas terengah-engah.
Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Ramli. Tante turun dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.

"Bagaimana kalau Oom Ramli sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya merasa berdosa.." kataku lemah.
Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.
"Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu impotent, Ben..!" tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.
"Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Ramli tidak bisa menggauli Tante lagi, ya..?" tanyaku.
"Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman tante. Terus terang Tante nggak tahan kalau 1 hari tidak disentuh atau dipeluk laki-laki.." tutur Tante.

Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku yang berbulu.
"Ben.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!" ucapnya lembut.
Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga. by: www.sumkiro.com << - Blue Film - Bokep Barat - Bokep Barat - Bokep Indo - Cerita Seks - Film Semi - Movie >>

TAMAT
0

Asmara Di Toko Buku


SUMKIRNO- Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.

Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.

Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai. "Maaf.." kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. "Busyet! molek juga nih ibu-ibu", pikirku.

"Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet", katanya sambil tersenyum manis.
"Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak.."
"Kamu suka juga fotografi yah?"
"Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok.."
Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya, "Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah", potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.
"Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan", katanya sambil menggandeng anaknya.
Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.
"Hi, asyik amat baca bukunya", tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.
"Ada yang kelupaan Mbak?"
"Oh tidak."
"Putrinya mana, Mbak?
"Les piano di daerah Tebet"
"Nggak dianter?
"Oh, supir yang nganter."
Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Lilis tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Lilis duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

"Ke mana?" tanyaku.
"Terserah kamu saja", balasnya mesra.
"Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol", kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
"Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol", katanya sambil tersenyum.
Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Lilis yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Lilis, Mbak Lilis pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku. Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Lilis dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. "Mmhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih", sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.

Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. "Buka dong bajumu", pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.

Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya. Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Lilis semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.

Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Lilis menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.

Kulihat Mbak Lilis segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Lilis bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Lilis ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Lilis yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Lilis menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, "Slebb.." tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Lilis merintih kesakitan.

"Pelan-pelan Ndi", pintanya lemah.
"Ya deh Mbak", dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku. "Aarrghh.. pelan Ndi.." Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. "Arrhhghh.." Mbak Lilis menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.

"Kenapa Mbak, mau udahan dulu?" bisikku padda Mbak Lilis setelah melihatnya kesakitan.
"Jangan Ndi, terus aja", balasnya manja.
Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Lilis yang ketat sekali.

Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Lilis. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.

Setelah Mbak Lilis tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Lilis mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Lilis mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.

Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, "Auuwww..", jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.
"Istirahat dulu Mbak", tanyaku.
"Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi", bisiknya dengan nada manja.
"Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..", balasku tak kalah mesranya.
"Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..", pancing Mbak Lilis.
"Ah nggak kok Mbak, baru kali ini", jawabku berbohong.
"Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi.. Sungguh perkasa", puji Mbak Lilis.
"Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak", balasku balik memuji.
"Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur", balasnya manja.
Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.

Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Lilis tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya. Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Lilis harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai. by: sumkirno.com - Blue Film - Bokep Barat -  Bokep Indo Cerita Seks - Film Semi - Movie



TAMAT
0

Adik Sang Sutradara 02

Kuangkat serta kubuka pahanya yang putih mulus itu, terlihatlah dengan jelas dan menggairahkan lubang kenikmatan bagi pria itu berwarna merah muda dan basah oleh cairan yang telah kujilat dan kutelan dengan penuh kenikmatan. Sekali lagi kukecup dan kujilat kedua bibir indah itu dan kugigit kecil klitorisnya yang mungil tapi bukan main menggemaskan.

0

Aku Menjadi Pacar Gelap 01


SUMKIRNO - Kamar kostku sangat sederhana, hanya dibatasi dinding papan yang sudah rapuh dari kamar pasangan suami istri yang belum punya anak. Karena kondisi itulah sejak aku sewa kamar itu selama 2 bulan aku mempunyai kebiasaan mengintip dari sebuah lubang kecil di dinding ujung tempat tidurku yang makin lama semakin melebar karena ulah jariku. Lubang itu kututup dengan poster sehingga tidak ada cahaya yang keluar dari kamarku. Sedangkan di kamar sebelahku antara dinding dengan tempat tidur mereka hanya terhalang oleh kelambu.

Kegiatan mengintipku tidak mengenal batas waktu, dari pagi, siang ataupun malam. Sehingga aku hafal benar kehidupan di kamar sebelah, dari lekuk tubuh Mbak Devi (nama samaran) sampai kehidupan sex mereka. Walaupun kehidupan rumah tangga mereka tampak rukun, tetapi aku tahu bahwa Mbak Devi selalu tidak terpuaskan dalam kehidupan sex, karena suaminya hanya mampu 2-3 menit dalam bertempur, itu pun tanpa pemanasan yang cukup. Sehingga sering aku melihat Mbak Devi diam-diam melakukan masturbasi menghadap ke dinding (ke arahku) setelah selesai bersenggama dengan suaminya. Dan biasanya pada saat yang sama, aku pun melepas hajatku, tanpa berani bersuara sedikitpun. Bahkan tidak jarang kulihat Mbak Devi terlihat tidak bernafsu melayani suaminya, dan menjadikan tubuhnya hanya untuk melepas birahi suaminya saja.

Aku kenal dekat dengan Mbak Devi dan suaminya, aku sering bertandang ke rumahnya untuk membaca koran karena kamar kontrakannya satu rumah denganku, bedanya mereka mempunyai ruang tamu, ruang tidur dan dapur. Aku lebih akrab dengan Mbak Devi. Disamping umurnya kuperkirakan tidak jauh terpaut banyak di atasku, juga karena suaminya berangkat kerja sangat pagi dan pulang malam hari, itulah yang membuatku dekat dengannya. Mbak Devi sebagai ibu rumah tangga lebih banyak di rumah, sehingga kami lebih sering bertemu di siang hari, karena kuliahku rata-rata 2 mata pelajaran sehari, dan selama itu pula aktifitas mengintipku tidak diketahui oleh mereka.

Hingga pada suatu hari, aku berniat pulang kampung dengan menggunakan Travel, yaitu kendaraan jenis minibus yang dapat dimuati 9 orang dan dioperasikan dari kota B ke kotaku pulang pergi. Aku selalu menggunakan jasa angkutan ini, karena harganya tidak terlalu mahal dan juga diantar sampai ke rumah. Aku kaget ketika masuk kendaraan, ternyata di dalam sudah ada Mbak Devi yang mendapat tempat duduk persis di sampingku.

"Eh Mbak Devi, mau kemana..?" sapaku sambil mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Oh Dik Roni.., mau ke kota G. Ada saudara Mas yang sakit keras, tapi Mas nggak bisa cuti. Jadi saya datang sendiri."

Kami pun terlibat obrolan yang menyenangkan.

Dia menggunakan rok lengan pendek, sedangkan aku menggunakan t-shirt, sehingga berkali-kali tanpa sengaja kulit lengan kirinya yang putih mulus bersetuhan dengan kulit lengan kananku. Perjalanan malam yang akan memakan waktu 8 jam ini akan menyenangkan pikirku.


Kami sudah kehabisan obrolan, kulihat Mbak Devi memejamkan mata, walaupun aku yakin dia belum tidur. Gesekan lengan kami lama-lama menimbulkan rangsangan buatku, sehingga kurapatkan dudukku ketika mobil berbelok. Kini tidak hanya lenganku yang menempel, tetapi pinggul kami pun saling menempel. Mbak Devi mencoba menjauh dari tubuhku, dan aku pura-pura tidur, tapi posisi menjauhnya menyulitkan duduknya, sehingga pelan-pelan lengannya kembali menempel ke lenganku. Aku diam saja dan menahan diri, lalu lama-lama kugesekkan lenganku ke kulit lengannya, pelan sekali, setelah itu berhenti, menunggu reaksinya, ternyata diam saja. Darahku mulai cepat beredar dan berdesir ke arah penisku yang mulai mengeras.

Kuulangi lagi gesekanku, kali ini lebih lama, tetap tidak ada reaksi. Kuulangi lagi berkali-kali, tetap tidak ada reaksi. Kini aku merasa yakin bahwa Mbak Devi juga menikmatinya, kumajukan lenganku pelan-pelan, kutindihkan lengan kananku di lengan kirinya. Kulihat Mbak Devi masih tidur (pura pura..?) dan kepalanya beberapa kali jatuh ke pundakku. Aku makin terangsang, karena lenganku menempel pada buah dadanya. Mbak Devi masih diam saja ketika tangan kiriku mengelus-elus kulit lengannya yang mulus, aku sangat menikmati kulitnya yang halus itu. Aku terkejut ketika dia membetulkan duduknya, tetapi tidak, ternyata dia menarik selimut pembagian dari Travel, yang tadinya hanya sampai perut sekarang ditutup sampai lehernya. Aku mengerti isarat ini, walaupun duduk di barisan belakang dalam kegelapan, tetapi kadang-kadang ada sinar masuk dari kendaraan yang berpapasan.

Kulihat ibu-ibu di samping Mbak Devi masih terlelap dalam tidurnya. Melihat isyarat ini, kuletakkan tangan kiriku di atas buah dadanya, tangannya menahan tangan dan berusaha menyingkirkannya, tetapi aku bertahan, bahkan kuremas dadanya yang cukup besar itu dari luar bajunya. Tidak puas dengan itu, tanganku kumasukkan dalam bajunya, kusingkapkan BH-nya ke atas, dan kuremas dadanya yang kenyal dengan lembut langsung ke kulit payudaranya yang halus sekali.

Kembali tangannya mencengkeram tanganku ketika aku memelintir putingnya yang sudah mengeras, tetapi hanya mencengkeram dan tidak menyingkirkan. Kepala Mbak Devi tersandar di bahuku, sedangkan kemaluanku sudah sangat keras dan berdenyut. Kuremas dan kuelus buah dadanya yang kenyal dan licin dengan lembut sepuas-puasnya, Mbak Devi terlihat sangat menikmatinya. Permainan ini cukup lama, ketika rangsanganku makin meningkat, kurasakan penisku makin keras mendesak celanaku. Kugeser tanganku dari payudaranya ke perut dan pinggangnya yang langsing, dari pusar tanganku makin ke bawah mencoba menerobos ke bawah CD-nya. Mbak Devi menahan tanganku dan menyingkikirkannya dengan keras. Akhirnya aku harus puas mengelus perutnya.

Aku sudah sangat terangsang, dalam kegelapan kubuka resleting celanaku, kukeluarkan penisku yang sudah sangat keras dari celana. Kubimbing tangan Mbak Devi ke kemaluanku. Pada awalnya dia menarik tangannya, tetapi setelah kupaksa di tengah tatapan protesnya, ahirnya dia mau menggenggam kemaluanku. Sungguh nikmat sekali tangannya yang telah menyetuh barangku, bahkan dengan lembut meremas-remasnya.

"Mbak Devi jangan diremas, dielus saja..!" bisikku.

Bersamaan dengan itu, kembali tanganku menyusup ke celana dalamnya. Kali ini Mbak Devi diam saja, bahkan tanpa sadar diangkatnya kakinya, menumpangkan paha kirinya ke atas pahaku. Di tengah rimbun rambut kemaluan, kucari celah vaginanya, kujumpai vaginanya sudah mulai basah. Ketika jari tenganku mengelus dan memutar klitorisnya, kulihat Mbak Devi mendesis-desis menahan rintihan. Sementara elusan di batang kemaluanku telah berubah menjadi kococokan.

Kenikmatan sudah memenuhi batang kemaluanku, bahkan menjalar ke pinggul. Ketika jariku sedang mengelus di dalam dinding dalam vaginanya, kurasakan kedutan di kepala kemaluanku sudah semakin kencang. Aku tidak tahan lagi.

"Crot..," akhirnya muncratlah air maniku beberapa kali, dan bersamaan dengan itu pula terasa dinding vagina Mbak Devi menjepit keras jariku, punggungnya mengejang, Mbak Devi mengalami orgasme.

Kutarik tanganku, dan kurapihkan selimutku dan juga selimutnya. Setelah itu kami terlelap tidur dengan kepala Mbak Devi tersandar di pundakku                         

*****          <<<  www.sumkirno.com  >>>         

Aku terbangun ketika mobil berhenti di tempat parkir sebuah restoran yang sudah dipenuhi dengan bis malam. Di tengah sawah yang gelap itu, berdiri sebuah restoran Padang, tempat para supir istirahat dan penumpang minum kopi dan makan. Penumpang minibus beranjak turun, Mbak Devi kulihat masih terlelap tidur. Dia bangun ketika ibu-ibu yang duduk di sebelahnya terpaksa membangunkannya karena mau lewat untuk turun, dan dia hanya memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan.


Mobil kami diparkir di paling ujung di sebelah sawah yang gelap di antara parkir bis-bis besar jurusan luar kota. Semua penumpang telah turun, dan aku hanya berdua dengan Mbak Devi. Kupandangi wajah cantiknya, kuraih lehernya ke arahku, dalam kantuknya kucium dengan lembut bibirnya, kuhisap dan kumasukkan lidahku mencari lidahnya. Dia membalasnya setengah sadar, tetapi ketika kesadarannya mulai pulih, Mbak Devi membalas ciumanku, lidahnya bergesekan dengan lidahku, hisapannya juga tumpang tindih dengan hisapanku. Tanganku sudah masuk ke dalam bajunya dan meremas buah dadanya, nafasku dan nafasnya mulai memburu. Batang penisku kembali menegang dengan besaran yang penuh.


Kucium lehernya, dia menggelinjang kegelian dan aku makin terangsang. Dan kuberanikan diri untuk meminta kepadanya.

"Mbak Devi, saya pengin dimasukkan.., boleh kan Mbak..?"

Dia hanya mengangguk dan mengangkat pantatnya ketika aku melepaskan CD-nya. Kuperosotkan celanaku sampai ke lutut, sehingga batang kemaluanku mendongak ke atas bebas.


Ketika sedang berpikir bagaimana posisi yang pas untuk menyetubuhinya pada posisi duduk di jok belakang yang sempit itu, tiba-tiba Mbak Devi bangkit, mengangkangi kedua pahaku menghadap ke arahku. Dengan mencincing roknya sampai ke pinggang, dipegangnya batangku dan di bimbingnya ke arah kemaluannya. Disapukannya kepala penisku dari ujung klitorisnya sampai bibir vaginya yang paling bawah berkali-kali. Kurasakan geli dan nikmat digeser-geser di daerah licin seperti itu. Aku mendesis kenikmatan karena untuk pertama kali inilah aku berhubungan badan dengan seorang wanita.


"Enak Dik Roni..?" tanyanya ditengah dia menatap wajahku yang keenakan.

"Mbak, masukin Mbak, saya pengen ngerasain..!" aku meminta.

"Mbak masukin, tapi jangan cepet dikeluarin ya.., Mbak pengen yang lama."

Aku hanya mengangguk, walaupun aku ragu apakah aku mampu lama. Aku terbayang suami Mbak Devi yang hanya mampu 2-3 tiga menit saja.


Dia mulai menurunkan pantatnya pelan sekali, terasa kepala penisku terjepit bibir yang lincin dan hangat. Serr.., seerr.., terus makin ke dalam, sampai akhirnya sudah separuh kemaluanku terjepit di liang vaginanya. Pada posisi itu dia berhenti, kurasakan otot dalam vaginanya menjepit-jepit kemaluanku, nimat sekali rasanya. Sebagai pemula, aku berusaha mengocok kemaluannya dari bawah, kusodok-sodokkan penisku ke vaginanya, sehingga mobil terasa bergoyang.

Aku Menjadi Pacar Gelap BAGIAN: 02 - www.sumkirno.com - situs cerita dewasa dan berbagai video seks
0

Cerita Sex ML Dengan ABG Perawan IGO Cantik Sungguh Nikmat


Cerita Sex ML Dengan ABG Perawan IGO Cantik Sungguh Nikmat | Cerita Sex Perawan
Cerita Ngentot – Suatu siang, aku sedang terburu-buru karena dipanggil Boss untuk menyiapkan sYogaan kepada tamu yang datang dari Kalimantan, tanpa sadar aku berpapasan dengan yuni yang sedang berjalan sambil melihat hape tanpa memerhatikan jalan sehingga terjadi tabarakan tanpa
0

Cerita Dewasa Ngentot Dengan Mama Eva Tante Istriku

Perkenalkan nama ku Anto, telah beristri, Perkenalkan nama ku Burhan, telah beristri, bekerja di sebuah Perusahaan Swasta, Istriku cukup lumayan, cantik dan bahenol, namun yang akan aku ceritakan ini bukan soal hubungan seks ku dengan istri ku, tapi soal hubungan ku dengan seorang setengah baya, yang setatusnya adalah tante, tapi kami sekeluarga memanggilnya dengan kata Mama, hal ini wajar, agar bisa lebih akrab dan dekat.

0

Cerita Dewasa Ngentot Istri Tetangga Yang Lebih Cantik


Ernita, 25 tahun, isteri dari Bagus, 28 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang lumayan supel dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Penampilan Ernita biasa saja. Ernita bersikap selalu apa adanya dan bersahaja. Bagus adalah seorang suami yang cukup baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangganya, maka Bagus akan selalu berusaha untuk memperolehnya. Bisa dibilang, rumah tangga mereka adalah harmonis.

Pada waktu malam acara 17 Agustusan tahun 2012, Ernita & Bagus beserta warga lingkungan dimana mereka tinggal mengadakan malam hiburan berupa Organ tunggal. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula mereka berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa bebas mengikuti irama musik..

Setelah beberapa lagu, mereka terus asik berjoget dengan berganti pasangan. Mereka terus bergembira. Ernita berjoget dengan seorang bapak, Bagus berjoget dengan seorang perempuan remaja.. Begitulah mereka berjoget sampai beberapa lagu dengan berganti pasangan sampai beberapa waktu. Menjelang akhir acara, pada lagu terakhir, Ernita berjoget dengan seorang bapak, sedangkan Bagus berjoget dengan Ayu, seorang ibu rumah tangga yang tinggal beberapa rumah dari rumah mereka. Ayu, sekitar 40 tahun, ibu dari seorang karyawan swasta yang bekerja dengan sistim shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar.

Walau sudah berumur tapi penampilan Ayu selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang selalu agak seksi dan pandai bermake up. Selintas Ernita melirik pada Bagus yang sedang berjoget dengan Ayu. Terlihat Bagus sedang tertawa dengan Ayu sambil berjoget. Setelah itu kembali Ernita pun berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Menjelang tengah malam acara usai. Semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Ernita dan Bagus segera ke tempat tidur.

“Bagaimana tadi, sayang?” tanya Bagus sambil memeluk Ernita.
“Apanya?” kata Ernita sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Bagus.
“Ya tadi waktu kita di tempat pesta tadi,” kata Bagus sambil mengecup bibir mungil Ernita.
“Saya benar-benar gembira…” kata Ernita sambil tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap dada serta jarinya memainkan puting susu Bagus.
“Harusnya kita sering melakukan acara seperti tadi, jangan cuma setahun sekali…” kata Bagus sambil tangannya masuk ke pakaian tidur Ernita. Buah dada Ernita diremas dengan mesra.
“Mmhh.. Memangnya kenapa?” kata Ernita sambil mencium pipi Bagus lalu mengecup bibirnya.
“Ya kita kan bisa bergembira dengan tetangga yang ada. Jarang sekali kita ngumpul bareng mereka,” ujar Bagus sambil membuka seluruh kancing pakaian tidur Ernita.

Lalu dijilatnya puting susu Ernita sambil tangannya meremas buah dada Ernita yang satu lagi.

“Mmhh…” desah Ernita sambil memejamkan matanya.

Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Ernita, tangan Bagus yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke celana dalam Ernita. Segera jarinya menyentuh bulu-bulu kemaluan Ernita yang tidak terlalu banyak. Ernita tetap terpejam sambil sesekali mendesah.. Jari-jari tangan Bagus lalu turun menyusuri belahan belahan memek Ernita.

“Ohh…” desah Ernita keras sambil menggerakkan pinggulnya.

Jari Bagus terus menggosok-gosok belahan memek Ernita sampai cairan memek Ernita keluar banyak.

“Mmhh…” desah Ernita sambil tangannya memegang tangan Bagus yang sedang bermaik di memeknya.
“Enak, sayang,” kata Bagus sambil melumat bibir Ernita.

Sementara jari tengah Bagus masuk ke lubang memek Ernita. Tanpa menjawab pertanyaan Bagus, Ernita membalas ciuman Bagus dengan hebat sambil menjepitkan pahanya lalu menggoyangkan pinggulnya karena menahan kenikmatan ketika jari tangan Bagus keluar masuk lubang memeknya. Sementara tangan Ernita segera menyelusup ke dalam celana piyama Bagus, dan kemudian menggenggam dan meremas kontol Bagus yang sudah tegang.

“Buka pakaiannya dong, sayang,” kata Ernita berbisik ke telinga Bagus. Bagus segera bangkit lalu melepas seluruh pakaiannya. Kontol Bagus terlihat sudah tegak dengan ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Melihat itu, Ernita segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya kontol Bagus lalu dikocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kontol Bagus. Tanpa banyak cakap ujung lidah Ernita segera menjilati cairan tersebut sambai habis. Tak lama, mulut Ernita sudah mengulum batang kontol Bagus yang lumayan besar. Cpok.. Cpok.. Cpok.. Terdengar suara kuluman mulut Ernita pada kontol Bagus.

“Ohh.. Enak, sayang.. Ohh…” desah Bagus sambil memegang kepala Ernita lalu memompa pelan kontolnya di mulut Ernita.
“Gantian, dong…” kata Ernita sambil melepas kulumannya lalu menatap mata Bagus. Bagus tersenyum.
“Naiklah ke ranjang…” ujar Bagus.

Ernitapun segera naik ke atas ranjang lalu telentang dan membuka lebar pahanya. Tak lama, Ernita mendesah karena lidah Bagus pintar bermain dan menjilati kelentit dan lubang memek Ernita.

“Ohh, sayangg.. Teruss…” desah Ernita agak keras.

Apalagi ketika jari Bagus masuk ke lubang memeknya sambil lidahnya tak henti menjileti kelentit Ernita. Gerakan pinggul Ernita makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Ernita dengan keras meremas rambut Bagus dan mendesakkan kepalanya ke memek. Lalu..

“Ohh.. Enak, sayangg.. Mmff.. Sshh…” jerit kecil Ernita terdengar ketika Ernita mencapai puncak kenikmatan.. Orgasme..

Bagus segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulut masih basah oleh cairan memek Ernita, Bagus langsung melumat bibir Ernita. Ernitapun langsung membalas ciuman Bagus dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Ernita segera memegang dan membimbing kontol Bagus ke lubang memeknya. Selang beberapa detik kemudian.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Bagus lansgung keluar masuk memek Ernita. Keduanya bermandi peluh sambil sesekali terdengar desahan kenikmatan mereka.

“Memeknya legit, sayang.. Enak…” bisik Bagus. Ernita tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Memang kenapa?” tanya Ernita.
“Aku tidak pErnitah bosan menyetubuhi kamu…” bisik Bagus sambil terus memompa kontolnya. Ernita tersenyum.
“Kalau wanita lain rasanya bagaimana,” tanya Ernita lagi.
“Aku tidak pErnitah bersetubuh dengan wanita lain, kok…” kata Bagus.

Ernita tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Bagus sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan kontol Bagus.

“Saya mau tanya, sayang…” kata Ernita.
“Apa?” kata Bagus.
“Tubuh Mbak Ayu, tetangga kita itu, bagus tidak..?” tanya Ernita.
“Ah kamu pertanyaannya ada-ada saja…” kata Bagus tak menghiraukan.
“Saya serius, sayang.. Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok…” kata Ernita.
“Tadi lihat belahan buah dadanya tidak?” tanya Ernita.

Bagus mengangguk. Ernita tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

“Jujur.. Iya, tubuh dia bagus. Dan tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya. Marah?” kata Bagus sambil mengentikan gerakannya.

Ernita tersenyum sambil terus menggoyang pinggulnya.

“Jangan berhenti dong, sayang.. Terus setubuhi saya.. Mmhh…” kata Ernita.
“Saya tidak marah kok. Justru saya suka mendengarnya…” kata Ernita.
“Kenapa?” tanya Bagus heran.
“Tadi waktu saya lihat kamu berjoget dengan Mbak Ayu, tidak tahu kenapa ada perasaan aneh…” kata Ernita.
“Tadi tiba-tiba saya membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Lila…” lanjut Ernita lagi.
“Kenapa begitu?” tanya Bagus.
“Saya tidak tahu…” kata Ernita.
“Kamu cemburu?” tanya Bagus.
“Tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya sangat ingin melihat kamu bermesraan dengan Mbak Lila…” kata Ernita.

Bagus tersenyum.

“Kamu lagi horny kali ya, tadi…” kata Bagus tanpa menghentikan gerakan kontolnya.

Ernita kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, Bagus mengejang, gerakannya bertambah cepat.

“Aku mau keluar, sayang.. Ohh…” bisik Bagus.
“Tahan dulu sebentar, sayang.. Saya juga mau keluar.. Mmhh…” bisik Ernita sambil mempercepat gerakan pinggulnya.

Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Bagus.

“Mau keluar, sayangghh…” jerit Ernita.
“Ohh.. Nikmat, sayang.. Ohh…” jerit kecil Ernita ketika mencapai orgasme.

Selang beberapa detik, Bagus juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.. Crott.. Crott.. Crott.. Air mani Bagus menyembur di dalam memek Ernita. Bagus mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Ernita.. Tubuh keduanya lemas saling berpelukan sementara kontol Bagus masuk berada di dalam memek Ernita.

“Mau tidak kalau saya minta kamu maen dengan Mbak Ayu.. Saya serius,” kata Ernita sambil memeluk pundak Bagus.
“Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?” tanya Bagus.
“Saya tidak tahu jawabnya, sayang.. Yang jelas ada perasaan horny ketika membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Lila…” kata Ernita.
“Mau kan, sayang?” tanya Ernita memaksa.
“Kalau aku mau, bagaimana caranya, sayang…” kata Bagus sambil mengecup bibir istrinya.
“Nanti aku yang mengatur…” kata Ernita sambil tersenyum.

Bagus juga tersenyum sambil mencabut kontolnya dari memek Ernita, lalu bangkit dan berpakaian. Merekapun tidur kemudian.. Banyak cara yang dilakukan Ernita agar Ayu bisa dekat dengan dan akrab dengan dia dan Bagus. Dan hal itu membuahkan hasil. Ayu sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun hanya untuk sekedar ngobrol.

Sampai suatu malam Ernita mengundang Ayu datang ke rumahnya.

“Mas Wiryo sudah pergi kerja kan, Mbak?” tanya Ernita.
“Sudah dari tadi dong.. Dia dapat bagian shift malam,” ujar Ayu.
“Eh ada apa undang saya ini malam?” tanya Ayu.
“Tidak ada apa-apa kok, Mbak…” kata Ernita.
“Kami hanya ingin ajak Mbak nonton VCD baru yang dibeli Mas Bagus,” kata Ernita sambil melirik kepada Bagus.

Bagus membalas dengan senyuman.

“VCD begituan ya?” tanya Ayu bersemangat.

Ernita tersenyum sambil melirik Bagus.

“Cepatlah putar!” ujar Ayu tidak sabar. Bagus bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke VCD player.
“Mbak Ayu suka film jenis apa?” tanya Bagus sambil menyodorkan beberapa keping VCD.

Setelah memilih, Ayu segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Bagus segera memutarnya. Mereka bertiga menonton film BF tanpa banyak bicara. Mereka duduk bertiga di karpet. Ernita duduk berdampingan dengan Ayu, sementara Bagus duduk dibelakang mereka.

“Udah ada yang bangun, ya..?” kata Ernita tersenyum sambil melirik ke arah Bagus.
“Lumayan…” kata Bagus.
“Lumayan apa?” tanya Ayu sambil matanya sedikit melirik ke arah selangkangan Bagus yang mulai agak menggembung. Bagus tersenyum sambil menutupi kakinya dengan bantal.
“Mbak Ayu seberapa sering begituan dengan Mas Wiryo?” tanya Ernita.
“Ah, jarang sekali.. Mungkin karena dia capek,” kata Ayu sambil matanya terus melihat adegan seronok di video.

Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.

“Sini dong..!” kata Ernita kepada Bagus sambil matanya berkedip memberi isyarat. Bagus beringsut mendekati Ernita.
“Ada apa sih..?” tanya Bagus.
“Duduk dekat sini dong…” kata Ernita dengan suara manja.

Dengan sengaja tangan Ernita segera masuk ke dalam Celana Hawaii Bagus. Lalu digenggamnya kontol Bagus yang sudah tegang dan diremasnya pelan. Ayu yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan.. Antara rasa malu dan rasa ingin melihat bercamput baur.

“Udah pengen ya?” kata Ernita kepada Bagus.

Suaranya sengaja agak keras. Bagus tersenyum sambil matanya melirik ker arah Ayu. Ayu yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Bagus. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Ayu lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar ketika berpandangan dengan Bagus.. Ernita melirik ke arah Bagus sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Ernita menurunkan celana Bagus hingga kontolnya yang besar tampak tegak terlihat. Lalu dikocoknya pelan.. Bagus tetap diam sambil matanya melirik ke arah Ayu yang jelas kelihatan gelisah.

“Mbak suka tidak pada barang lelaki yang berbulu banyak?” tanya Ernita sambil menatap Ayu.
“Mm.. Eh.. Iya.. Iya.. Saya suka…” kata Ayu tergagap menatap Ernita sambil matanya sekilas melirik ke tangan Ernita yang sedang meremas kontol Bagus.
“Kalau kayak gini suka tidak, Mbak?” tanya Ernita sambil matanya mengisyaratkan agar Ayu melihat ke kontol Bagus.
“Ah, kamu ini…” kata Ayu sambil matanya melihat kontol Bagus beberapa saat.

Ernita tersenyum. Tangannya meraih tangan Ayu, lalu ditariknya ke arah kontol Bagus. Ayu menuruti kemauan Ernita walau hatinya merasa serba salah..

“Coba pegang, Mbak…” kata Ernita sambil tangannya membimbing jari-jari Ayu untuk menggenggam kontol Bagus.

Kontol Bagus terasa hangat dan berdenyut di tangan Ayu. Nafas Ayu memburu. Ada desiran tertentu yang menuntun tangannya bergerak meremas pelan kontol Bagus. Bagus tersenyum sambil melirik ke arah Ernita. Ernita juga tersenyum sambil mundur agak menjauh. Bagus tanpa diduga tangannya meraih dagu Ayu, lalu dengan segera mengecup bibirnya, lalu dilumatnya dengan hangat. Ayu yang sudah terangsang gairahnya langsung membalas ciuman Bagus dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok kontol Bagus. Tangan Andripun dengan segera menyusup ke balik daster Ayu. Ditelusuri paha Ayu. Elusan tangannya segera naik ke pangkal paha, lalu jarinya diselipkan ke celana dalam Ayu.

“Mmhh…” desah Ayu sambil menggelinjang ketika jari tangan Bagus menyusuri belahan memeknya yang sudah sangat basah.
“Ohh.. Mmhh…” desah Ayu tambah keras ketika jari Bagus keluar masuk lubang memknya.

Pinggulnya sedikit digoyang karena nikmat. Sementara Ernita sengaja menjauhkan diri dari mereka. Ernita mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang Ernita sukai. Ernita tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Ernita yang mulai cepat yang terdengar.. Ketika tangan Bagus mulai mencoba melepas pakaian Ayu, Ayu agak tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Ernita. Tapi ketika dilihatnya Ernita tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Ayu melanjutkan bercinta lagi..

Ayu sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Bagus merangkul dari belakang dan tangannya meremas buah dada Ayu, Ayu terpejam dan memegang tangan Bagus yang sedang meremas buah dadanya.

“Ohh…” desah Ayu seiring dengan jilatan dan pagutan Bagus di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Ayu.

Tak lama Bagus segera melepas daster Ayu. Ayu tampak agak canggung ketika Bagus melepas BH dan celana dalamnya dari belakang. Andripun melepas seluruh pakaiannya. Segera setelah itu Bagus menindih tubuh telanjang Ayu. Jilatan lidah dan remasan tangan Bagus pada buah dada Ayu membuat Ayu menggelinjang merasakan nikmat.

“Ohh.. Oohh…” desah Ayu ketika jilatan lidah Bagus turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.

Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat.. Ernita tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang bergumul mesra dengan Ayu. Nafasnya makin memburu waktu melihat kontol Bagus dihisap sambil dikocok oleh Ayu. Tanpa terasa tangannya menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan memeknya sendiri. Entah mengapa Ernita sangat menikmati ketika Bagus memompa kontolnya ke dalam mulut Ayu. Nafas Ernita semakin memburu, juga satu jarinya semakin cepat keluar masuk memeknya sendiri ketika melihat Bagus mulai menyetubuhi Ayu. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Ernita bertambah naik..

“Ohh.. Sshh…” desah Ayu ketika Bagus dengan perkasa mengeluar masukkan kontol di memeknya.
“Gimana rasanya, Mbak?” tanya Bagus sambil mengecup bibir Ayu.
“Ohh sangat enakk.. Mmhh…” kata Ayu sambil merangkul pundak Bagus, sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Bagus.

Entah sudah berapa lama mereka bersetubuh disaksikan Ernita, sampai akhirnya Ayu memeluk tubuh Bagus kuat-kuat. Memeknya didesakan ke kontol Bagus dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang.

“Oohh.. Oohh…” desah Ayu terkulai lemas setelah mendapat orgasme.

Sementara Bagus masih terus menggenjot kontolnya di memek Ayu yang sudah lemas. Gerakannya makin cepat ketika Bagus merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat di kontolnya. Tak lama segera dicabut kontolnya dari memek Ayu, lalu digesek-gesekannya pada belahan memek Ayu.

Sampai akhirnya.. Crott! Crott! Crott! Air mani Bagus tumpah banyak di atas bulu-bulu memek Ayu. Tubuh Bagus lalu lemas terkulai di atas tubuh telanjang Ayu. Ernita yang melihat hal itu segera menghampiri mereka. Diusapnya pantay Bagus.

“Masih kuat tidak, sayang..?” bisik Ernita ke telinga Bagus.

Bagus segera mencabut kontolnya dari memek Ayu lalu bangkit. Ayu juga demikian.

“Kenapa sayang?” tanya Bagus sambil mengecup bibir Ernita.
“Saya pengen…” kata Ernita sambil memegang kontol Bagus yang lemas dan masih basah.
“Aku masih lemas, sayang…” kata Bagus.
“Sebentar lagi saya minta jatah ya, sayang…” kata Ernita sambil mencium bibir Bagus.
“Gimana, Mbak?” tanya Ernita kepada Ayu sambil tersenyum. Ayu tersenyum sambil berpakaian.
“Aku bisa ketagihan, loh…” kata Ayu.
“Kapan saja Mbak perlu, datang saja kesini…” kata Ernita tersenyum pula.
“Aku pulang dulu ya,” kata Ayu sambil memeluk Ernita erat.
                                                          <<<<<<<<< >>>>>>>>
Ernita menggangguk                         WWW. SUMKIRNO.COM


                                                          <<<<<<<< >>>>>>>>>

Menurut pengakuan Ernita, sudah beberapa puluh kali Ayu bersetubuh dengan suaminya di depan mata. Ernita bukan biseks. Ernita hanya merasa mendapat suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Ernita sendiri. Dan menurut Ernita juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Hal ini yang membuat suasana hidup Ernita menjadi berwarna cerah. END>>> by: www.sumkirno.com - Baca kisah seks bergambar terbaru sebelumnya yang tidak kalah meningkatkan birahi mu berjudul "Wanita yang Kesepian Sangat Hebat Diranjang" -Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Bergambar –

0

Popular Posts

Cari Blog Ini

Pengikut

Popular Posts